Jumat, 24 Januari 2014

Bandung #0 : Perjalanan yang Melelahkan

Setelah setahun menahan rindu untuk tidak pulang kampung ke kota kelahiran kerena harus menuntut ilmu, akhirnya bulan Januari ini bisa kesampaian juga. Maklumlah, sebagai mahasiwa perantauan yang harus merantau jauh ke timurnya Jawa, waktu "pulkam pun harus menunggu libur panjang atau libur semester, belum lagi ongkos yang cukup mahal dan jarak yang sangat jauh, huoohh..

Tanggal 23 Januari 2013 adalah tanggal kepulangan saya ke Bandung. Setiap kali pulang atau kembali ke Jember, saya selalu menggunakan transportasi Kereta Api. Selain nyaman, saya dapat melihat pemandangan yang indah di luar kereta sepanjang perjalanan. Berangkat dari Stasiun Jember pukul 05.10 WIB menggunakan kereta api Logawa. Kereta api yang satu ini jadi andalan para mahasiswa Jember untuk pulkam ke arah Surabaya, Madiun, atau daerah yang dilalui kereta ini. Perjalanan pulang saya kali ini begitu spesial karena ditemani pacar saya, +Andes Pradesa, yang mau pulang ke Cirebon. Awalnya mau bareng temen saya juga, Riki, yang pulang ke Sukabumi. Tapi karena dia masih sibuk mengurusi skripsinya, jadi dia masih belum tahu kapan pulang, dan akhirnya hanya kami berdua saja yang pulang (terus skripsimu gimana Des? :D).
Tiket kereta api saya :3
Emang, yang namanya berangkat shubuh persiapannya harus pol-polan. Saya baru packing barang bawaan saya di tengah malam, dan menyiapkan bekal makan mulai jam setengah 4 pagi. Untungnya ada tante saya yang menyiapkan bekal nasi, sehingga saya terbantu dan bisa menyiapkan yang lainnya, hehe.. Saya diantar keluarga om saya dengan mobil. Maklum, adek-adek sepupu saya yang masih kecil pun ikut mengantar.

Sesampainya di sana, saya langsung berpamitan. Ada perasaan sedih ketika meninggalkan adek-adek saya, apalagi mereka sangat senang dengan kereta api, bahkan mereka ingin sekali ikut saya ke Bandung menggunakan transportasi. Tapi apa mau dikata, mereka harus sekolah. Jadi tunggu libur sekolah dulu ya :). Tepat pukul 05.10 WIB kereta api Logawa berangkat meninggalkan stasiun Jember. Saatnya beristirahat. Terang saja, karena semalaman saya lembur mengerjakan tugas jurnal dari dosen saya alias om saya sendiri, hehe.. Dan pacar saya yang nggak tidur karena nggak mau ketinggalan kereta. 

Perbekalan makan kami cukup banyak. Nasi dan lauk pauknya, roti, snack, permen, banyak deh :D. Paginya kami sarapan dulu dengan nasi dan rumput laut. Berasa kayak orang Jepang jadinya, apalagi pacar saya yang iseng bawa sumpit dari kostannya, hahhaha..


Belum juga setengah perjalanan, tapi bekal sarapan dan beberapa snack sudah habis. Apalagi saya yang semalaman tidak makan, terpaksa harus makan banyak di pagi harinya (bener terpaksa? :p). Ada snack yang selalu saya beli ketika perjalanan pulang ke Bandung, snack jagung. Bukan karena nggak ada snack yang lain yang lebih enak, tapi memang sudah terbiasa membeli snack ini, ada yang mau? hehe..

Perjalanan menggunakan kereta api ekonomi menjadi kesan tersendiri buat saya. Selain harganya lebih murah dibandingkan kereta bisnis dan eksekutif, pemandangan yang jarang ditemukan jika menggunakan kereta ekonomi, pedagang asongan. Meskipun udah ada aturan kalau pedagang asongan tidak berjualan di dalam kereta, tetapi masih saja ada yang "bandel" berjualan. Tapi buat saya ini amat terbantu, apalagi yang ingin jajanan pasar, hehe.. Restorasi kereta juga nggak jualan mainan anak, cuma pedagang asongan yang jualan :D.


Di dalam kereta ekonomi juga akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, rombongan keluarga, maupun pedagang yang membawa barang jualannya untuk dijajakan di kota lain (disini maksudnya bukan pedagang asongan lho ya?). Secara, harga tiket ekonomi yang lebih murah dibanding kereta bisnis dan eksekutif (walaupun harganya nggak semurah dulu sih -___-). Dan bagi saya, naik kereta ekonomi sekarang nggak jauh beda dengan 2 jenis kereta yang lain itu. Kenapa? Karena sekarang kereta ekonomi sudah ber-AC untuk semua gerbong. Walaupun menggunakan AC rumah, tapi setidaknya dapat menyejukkan kami sebagai penumpang selama perjalanan. Ditambah lagi, di kereta api Logawa menyetel musik, jadi perjalanan semakin menyenangkan (tapi suaranya nggak terlalu kedengeran kalau keretanya jalan, hahaha..)


Karena kekenyangan, kami pun tertidur. Kereta terus melaju dan berhenti di beberapa stasiun. Sejauh ini keretanya selalu tepat waktu jika tiba di stasiun pemberhentian, dan tidak terlalu lama menunggu. Memasuki Jawa Tengah, pacar saya membuka aplikasi Maps di tablet saya. Katanya dia pengen melihat posisi kami ada dimana. Kelihatannya cukup akurat. Saking asiknya pun sampai-sampai kami tak sadar bahwa tujuan kami sudah dekat. Saya akan singgah dulu di Stasiun Kutoarjo, sedangkan pacar saya di Purwokerto, sebelum nantinya kami melanjutkan perjalanan dengan kereta kedua, saya ke Bandung, dan pacar saya ke Cirebon. Selama melihat peta, kami merasa bahwa tujuan saya masih kelihatan jauh dan melihat jadwal pun masih ada waktu 1 jam lagi untuk sampai di Kutoarjo. Pacar saya permisi ke kamar mandi, dan saya masih asyik melihat peta. Hingga akhirnya kereta berjalan melambat, dan ketika saya melihat ke luar, saya melihat tulisan "KTA" di sebuah papan pemberitahuan, KTA alias Kutoarjo. Saya sudah sampai !

Perasaan panik, itulah yang saya rasakan sesaat setelah melihat tulisan itu. Saya segera menelepon kakek saya yang akan menjemput saya di stasiun sambil mengambil semua barang bawaan saya. Setelah kereta berhenti, saya berlari meninggalkan gerbong dan langsung turun dari kereta. Lega rasanya meskipun perasaan sedih karena belum sempat berpamitan dengan pacar saya (dia masih di kamar mandi sih -___-). Tapi untunglah, kereta belum langsung berangkat, ada lah 10 menit kereta "ngetem" di stasiun ini. Pacar saya pun langsung menghampiri saya dan kami masih ada waktu untuk mengobrol dan mengabadikan foto kami selama disana :).


Setelah itu, stasiun mengumumkan bahwa kereta api yang baru saya tinggali akan segera meninggalkan Kutoarjo. Pacar saya pun langsung naik ke kereta lagi. Ketika pintu kereta ditutup, kereta berjalan perlahan meninggalkan saya di Stasiun Kutoarjo. Dan setelah kereta sudah tak terlihat lagi dari pandangan saya, saya keluar dari stasiun untuk menemui kakek saya. Tapi karena saya yang menelpon mendadak karena kereta tiba di luar dugaan alias datang di awal waktu, jadi kakek saya belum sampai di stasiun. Sambil menunggu, saya duduk di depan stasiun.

Lima belas menit kemudian beliau pun sampai di stasiun. Saya menghampiri beliau, dan kami langsung menuju rumah kakek di Purworejo. Jarak Kutoarjo-Purwokerto kira-kira 30 menit, kayak Jember-Rambipuji kali ya? Sesampainya disana, saya langsung disambut nenek saya. Oya, kakek dan nenek saya yang tinggal di Purworejo ini adalah adik dari nenek saya. Saya diminta ayah saya untuk ke rumah beliau untuk beristirahat sebentar sebelum naik kereta kedua, ya sambil silaturahmi juga sih. Katanya ketimbang nunggu di stasiun lama, mending di rumah bisa sekalian makan dan mandi, hehe..

Pukul setengah tujuh malam saya berpamitan untuk berangkat ke stasiun lagi. Kereta kedua adalah kereta api Kahuripan dengan tujuan Stasiun Kiara Condong, Bandung. Saya diantar kembali oleh kakek saya kesana. Setibanya di stasiun, saya menunggu di ruang tunggu penumpang. Menjelang jam 8, saya diantar ke peron, dan berpamitan dengan kakek saya. Sambil menunggu, saya berbincang dengan orang di sebelah saya. Dia mau ke Jakarta dengan kereta api Bengawan tambahan. Jadi ingat dengan pacar saya yang masih menunggu kereta api Bengawan di Purwokerto. Katanya keretanya terlambat, tapi kereta Bengawan yang dimaksud bukan kereta tambahannya, karena kereta itu sudah melewati Stasiun Kutoarjo selepas maghrib. 

Kereta api Senja Utama
Sebelum kereta api kedua saya datang, kereta api Senja Utama Solo yang menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta tiba di Stasiun Kutoarjo. Sesaat saya berpikir, seandainya saya naik kereta ini saya akan melewati kota Cirebon, dan bisa main ke rumah pacar saya. Aahh, ada-ada aja saya ini :3.

Tepat pukul 20.06 WIB kereta api Kahuripan tiba di Stasiun Kutoarjo. Saya kebagian di gerbong 2. Saya berjalan ke arah timur menuju gerbong tersebut, karena gerbong itu letaknya di depan, 3 gerbong dari lokomotif. Sesampainya di gerbong, saya langsung mencari tempat duduk saya. Ternyata tempat duduk saya ditempati bapak-bapak, dan beliau tidur lagi. Jadinya terpaksa saya duduk di tempat yang kosong sambil menunggu bapak itu bangun -____-. Saya memutuskan untuk tidur di awal perjalanan, supaya nggak terasa lama perjalanannya. Sesampainya di Gombong, saya dikejutkan oleh rombongan keluarga di hadapan saya. Sontak saya kaget, saya langsung menuju tempat duduk asli saya. Untung bapaknya sudah bangun, jadi saya minta izin beliau untuk bisa duduk di sampingnya. Perjalanan malam yang dingin terus berlanjut (saya duduk tepat di bawah AC T_T), dan sebagian waktu saya habiskan untuk tidur. Sesekali saya lihat jam di handphone saya, saat itu menunjukkan waktu 23.00 WIB, masih lama. Saya pun melanjutkan tidur lagi.

Pukul 3 pagi, alarm saya berbunyi, dan saat itu pula ayah saya menelpon menanyakan saya sudah sampai dimana. Mau tahu gimana coba, pemandangan di luar gelap gitu. Jadinya cuma bisa menerka-nerka aja lagi dimana. Setelah ayah saya menelpon, saya buka lagi aplikasi Maps di tablet, ternyata sudah jauh melewati Kota Garut, dan mendekati daerah Cicalengka. Berarti sebentar lagi saya akan sampai di Bandung. Sekitar pukul 5 pagi saya tiba di Stasiun Kiara Condong. Saya turun dari kereta dan menuju ke pintu keluar, karena ayah saya sudah menjemput dan menunggu di luar. Setelah itu, saya diantar menuju rumah. Alhamdulillah, akhirnya bisa sampai di Bandung juga :').

Perjalanan kurang lebih 24 jam merupakan perjalanan yang amat melelahkan buat saya. Berangkat dari Jember pukul 5 pagi dan tiba di Bandung pukul 5 pagi juga. Meskipun begitu saya cukup menikmatinya. Kalau temen-temen yang lain gimana, bisa bertahan perjalanan jauh selama 24 jam? :D

4 komentar:

  1. jur kangen Bandung eh..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, masnya orang bandung jg toh?
      iya, kalau liat bandung yang sekarang jg jd slalu kangen bandung :D

      Hapus
  2. Kalau dari jember ke bandung tiketnya apa saja mbak yang di beli (yang murah).?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sudah lama sekali tidak mengunjungi jember dengan kereta hehe, tapi pengalaman sy dulu menggunakan 2 kali naik kereta, dari jember ke kutoarjo dengan Logawa, kemudian dari kutoarjo ke bandung dengan Kahuripan / Pasundan, gimana pasnya waktu berangkat. 2014 menggunakan Logawa masih dengan harga kisaran 100ribu, Kahuripan kalo tidak salah 80ribu.

      Hapus