Tampilkan postingan dengan label Childhood Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Childhood Story. Tampilkan semua postingan

9 Januari 2014

Bermain di Bawah Terik Matahari

Waktu saya masih kecil, yaa sekitar 7-8 tahunlah, saya paling seneng main di luar rumah. Mulai dari pagi sampe sebelum azan maghrib, saya habiskan waktu untuk bermain bersama teman-teman di luar rumah (tapi kalo sekolah mah yaa sekolah lah :D). Pokoknya paling nggak betah banget deh diem di rumah, dan dampaknya sekarang pun tetep gitu, nggak betahan, maunya pergi ke manaaa gitu. Saking seringnya main di luar sampe dikira anaknya tetangga (soalnya dulu sering banget main di rumah tetangga, hahaha...). Ya, masa kecil saya banyak dihabiskan untuk bermain di lapangan, ya kadang main di rumah tetangga (tetangga lagi XD). Kebetulan di komplek rumah saya banyak anak yang usianya sebaya dengan saya, jadi yaa nggak salah... nggak salah kalau betahnya di luar rumah, hahaha :D.

Zaman saya kecil dulu, belum ada yang namanya Ipad, Iphone, tablet, atau gadget sejenisnya. Meskipun sudah ada Play Station dan Nintendo, tapi saya dan teman-teman lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain di bawah terik matahari. Alasannya? Karena lebih menyenangkan, itu. Ketika bisa berkejaran satu sama lain, tertawa lepas, bahkan membuat strategi buat bersembunyi. Saya sungguh beruntung bisa dilahirkan pada zaman itu, zaman dimana gadget dan game online masih belum menguasai dunia main kami, zaman dimana permainan jadul masih terus dimainkan.

Ahh, jadi kangen :')

Jadi pengen nostalgila lagi sama permainan yang sering saya mainin dengan teman-teman dulu. Semoga masih ada yang main ya? :3

Petak Umpet
Ada yang tahu permainan ini? Dilihat dari namanya pasti tentang sesuatu yang tersembunyi. Yap, jadi di permainan ini ada yang bersembunyi dan ada yang mencari (yang jaga). Permainan ini bisa dimainkan minimal 2 orang, maksimalnya.. sebanyak-banyaknya, 100 orang juga boleh (kalau sanggup XD). Terus cara mainnya gini nih :

Pertama, kita tentukan dulu siapa yang yang jadi pencari atau yang jaganya dan yang bersembunyi. Caranya macem-macem, umumnya sih hompimpa.
Hompimpa alaium gambreng (http://id.wikipedia.org/wiki/Hompimpa)
Atau bisa juga dengan cara gini.
Cara nyari yang jaga (http://www.jakartanetwork.com/2010/07/petak-umpet-bawah-bambu.html)
Para kaki dikumpulkan (kayak apa aja -_-), terus ada satu orang yang bertugas mengucapkan mantra (lho?), eh maksudnya semacam kayak nyanyian buat hompimpa gitu deh. Kalau yang biasa saya mainin tuh kayak gini :
Minyak kayu putih digosok di badan
Bendera merah putih tandanya hilang
Ibu lagi nyuci pant*tnya hilang

Nanti yang kepilih (ketunjuk) dialah yang jaga atau yang jadi pencarinya. Atau bisa juga milihnya kayak gini :
Cang kacang panjang yang panjang ucing

Tapi sebelumnya bikin kesepakatan dulu, yang panjang atau pendek tangannya yang jadi penjaga atau pencari. Kalau misal panjang yang dipilih, terus pas akhir nyanyian itu ada yang panjang (maksudnya merentangkan tangan ke depan) itulah yang jadi pencarinya.

Nah, kalau urusan cari penjaga atau pencari selesai, sekarang cari home base atau tempat si pencari berada. Misal di dinding atau di pohon, terserah deh. Asal jangan di tempat bahaya ya, kayak di tiang listrik. Salah tempat malah bikin meregang nyawa jadinya -________-a.
http://permata-nusantara.blogspot.com/2009/02/permainan-petak-umpet.html
Di tempat itu nantinya setiap menemukan temen-temen yang sembunyi, harus memegang home base tersebut dengan kata-kata yang udah disepakati, misal "ketemu", "skip", "dua lima", "lima puluh", gitu-gitu deh. Juga berlaku buat yang bersembunyi, dimana mereka harus bisa memegang home base dengan kata-kata tersebut sebelum sang pencari datang. Intinya harus cepet-cepetan gitu.

Petak umpet pun bisa langsung dimainkan. Si pencari menghitung sesuai yang disepakati sama temen-temen yang bersembunyi, misal sampe 10. Si pencari berdiri menghadap pohon sambil menutup matanya dengan tangan menghitung 1 sampai 10, dan temen-temen lain bersembunyi di tempat yang tidak terlihat sama sang pencari. Kalau tempat sembunyi favorit saya biasanya di balik rumput :D/.

Hal yang perlu dicermati adalah area bermain. Jangan sampe yang bersembunyi kelewat batas. Pernah suatu ketika saya bermain petak umpet dengan temen-temen saya. Karena areanya bebas alias nggak terbatas, akhirnya saya pun bersembunyi di dalam rumah sendiri. Ya di rumah, bisa minum dulu, istirahat dulu. Temen saya yang jadi pencari kebingungan nyari temen-temen yang sembunyi, jelas karena pada sembunyi di rumah masing-masing, dan akhirnya permainan berakhir karena sang pencari pundung nggak mau nyari temen-temen yang sembunyi, hahaha...

Bancakan
Hampir sama kayak petak umpet pada umumnya. Tapi yang membedakan adalah si ucing alias penjaga atau pencari menyusun bata atau genteng sampai semua tersusun. Baru setelah itu pencari bisa mencari temen-temen yang bersembunyi. Nah, temen-temen yang bersembunyi mendatangi home base dan kemudian menghancurkan susunan bata itu sebelum pencari datang. Kalau udah hancur, ya pencari harus menyusunnya lagi, dan temen-temen yang lain bisa bersembunyi (lagi). Biasanya kalau si pencari nemu yang sembunyi, dia akan lari ke home base, dan menginjak batu sambil berteriak "Bancakan", dan yang ketahuan itu keluar dari permainan.
Bancakan (http://www.pikiran-rakyat.com/node/204669)
Kalau di tempat saya sih namanya Bancakan itu, kata mbah Wiki juga Bancakan termasuk permainan tradisional Jawa Barat. Di tempat temen-temen kayak gimana? Barangkali namanya beda gitu :).

Ucing Kup atau Cing Kup
Adalah permainan yang melatih kepekaan terhadap sentuhan, seorang anak yang di sentuh " kucing" oleh temannya maka tangannya harus cepat-cepat di silangkan kedadanya. Apabila terlambat maka giliran dia yang menjadi "kucing" selanjutnya. Sesuai dengan perkembangan aturan bertambah kalau saat cingkup tidak boleh terlihat gigi atau tersenyum karena itu juga menyebabkan dia menjadi "kucing". Permainan ini dilakukan dengan berlarian di halaman rumah, yang menjadi kucing dia yang mengejar lalu menyentuh seorang anak sebelum melakukan cingkup agar dia tidak menjadi kucing (Disparbud Jabar).
Cing Kup (http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=995&lang=id)

Untuk mencari kucingnya sama halnya kayak petak umpet. Permainan akan dimulai ketika sang "kucing" terpilih, dan tugasnya adalah mencari "mangsa" yang bisa saja jika tersentuh tangannya, maka peran si kucing akan berganti dengan orang yang tersentuh. Dulu saya sering banger main permainan ini dengan temen-temen saya, tapi biasanya kita mainnya dengan aturan sendiri. Mungkin bawaan suka nonton Sailormoon kali ya yang punya kekuatan super. Jadi biasanya temen-temen yang udah cingkup bisa melepas cingkup dengan sendirinya tanpa "dibangunkan" dengan temannya yang belum melakukan cingkup. Padahal itu nggak boleh, tapi dasar anak-anak aja buat aturan sendiri :D.

Bebentengan atau Benteng-bentengan
Permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki atau perempuan sebanyak 16–24 orang. Permainan ini memerlukan tempat yang cukup luas dengan ukuran kira-kira 10 x 5 meter2 sehingga dapat bermain leluasa, alat yang diperlukan beberapa buah bata/batu sebagai bentengnya. Ditinjau dari segi edukatif permainan ini sangat baik bagi perkembangan bakat dan membantu pertumbuhan jasmani anak-anak karena secara tidak langsung melatih kelincahan dan kecepatan lari, juga melatih penglihatan di samping mempelajari cara mengecoh lawan (Disparbud Jabar).

Kalau saya main permainan ini biasanya waktu bulan Romadhon, sambil ngabuburit, kita suka main di halaman masjid. Yang bikin greget adalah gimana caranya kita bisa mempertahankan benteng kita dari serangan lawan. Disinilah kita belajar untuk mengatur strategi, mempertahankan dan menaklukan benteng lawan. Nama lain dari benteng-bentengan itu adalah pris-prisan. Mungkin kalau di daerah lain beda kali ya? :D

Perepet Jengkol
Permainan “Perepet Jengkol” ini biasanya dimainkan ketika malam terang bulan. Dulu saat terang bulan  seperti ini anak-anak kampung keluar rumah untuk bermain di halaman. Permainan ini dimainkan oleh 3 – 4 anak perempuan atau lelaki. Pemain berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan, dan salah satu kaki saling berkaitan di arah belakang. Dengan berdiri dengan sebelah kaki, pemain harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, sambil bergerak berputar kea rah kiri atau kanan menurut aba-aba si dalang , yang bertepuk tangan sambil melantunkan kawih : Perepet jengkol jajahean.., Kadempet Kohkol jejeretean.. Lagu ini terus dinyanyikan berulang-ulang sampai anak-anak kelelahan atau ada anak yang terjatuh. Tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah dalam permainan ini. Jadi, jenis permainan ini hanya dimainkan untuk bersenang-senang pada saat terang bulan (Tentang Perepet Jengkol).
Perepet Jengkol (http://www.antarafoto.com/seni-budaya/v1316241301/olimpiade-permainan-tradisional)
Saya tuh paling nggak tahan kalo main ini, pasti jatuh-jatuh mulu, hehe..

Sebenernya masih banyak permainan yang suka saya main dulu, kayak lompat tali, ucing sendal, ular naga, banyak deh. Tapi berhubung sudah malam, eh sudah pagi ya, jadi cuma segini deh yang bisa saya share kali ini. Emang sih sekarang permainan-permainan seperti ini udah jarang terlihat di daerah kota (kalau di desa mungkin masih ada ya?). Ya, teknologi telah menaklukan segalanya. Dulu, saya masih lihat banyak temen-temen yang bermain di luar tiap sore. Ya ada yang main bola, basket, atau main polisi-polisian, hehe.. Tapi sekarang udah jaraaang banget, kebanyakan dari mereka sudah beralih bermain game di gadget atau laptop. Sedih sih. Tapi saya berharap permainan tradisional ini jangan sampe punah, kalau iya, apa yang mau kita warisin ke anak cucu kita? Game di laptop atau Ipad? Kan nggak sih. Padahal ya, beberapa permainan yang tradisional yang ada banyak mengajarkan kita banyak hal, seperti kebersamaan, strategi, dan lain-lain. Sayang, permainan ini dikalahkan oleh kecanggihan dunia teknologi saat ini :(.

Semoga ada yang bisa selalu melestarikan ya, kalau bukan kita siapa lagi? :).

Continue reading Bermain di Bawah Terik Matahari

4 Januari 2014

Putih Merah

Berbicara tentang masa kecil emang nggak pernah ada abisnya. Dan terkadang kalo diinget-inget suka senyum-senyum sendiri (jangan menafsirkan saya orang nggak waras ya -_-"). Masa yang cukup menyenangkan buat saya adalah masa-masa sekolah dasar. Nggak bisa dipungkiri di masa-masa SD itu adalah masa terbahagia saya karena masih belum mengenal yang namanya beban tugas kuliah dan SKRIPSI (hahaha, ada apa dengan skripsi?).

Paduan Suara di Balai Kota

Waktu kelas 5 SD, saya masuk di sebuah kelas khusus, kelas unggulan namanya, dimana di kelas tersebut berisi siswa-siswa terpilih yang lolos tes seleksi dan hanya terdiri dari 30 orang siswa. Suatu ketika ada sebuah event dalam rangka perdamaian dunia, dimana dalam event tersebut diisi oleh paduan suara 1000 anak dari berbagai sekolah di Kota Bandung, mulai dari SD, SMP, dan SMA (banyak banget ya?). Singkat cerita, saya dan teman-teman sekelas (dan ada juga dari kelas lain) latihan setiap hari, kalau nggak salah ada 4 lagu dan 3 diantaranya lagu berbahasa Inggris (keren banget gue, #apasih?). Sampai di waktu gladi bersih kami latihan menyanyi di Balai Kota (yang namanya anak SD, diajak ke Balai Kota aja seneng banget :D), latihannya bareng sekolah-sekolah lain dan sampai maghrib. Tahulah anak SD kalau pulang maghrib gimana. Pertama kalinya saya pulang maghrib menggunakan angkot, berasa kayak pilem-pilem serem (kebanyakan nonton film ni anak -_-").
saya dan beberapa temen sekelas saya ^_^
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Berangkat di pagi hari dan berkumpul langsung di Balai Kota. Saat itu sudah banyak sekali peserta paduan suaranya, begitupun dengan penontonnya. Karena ini event besar, ada juga stasiun TV yang meliput event ini. Berasa artis jadinya, hahaha..

Kami kebagian tempat di belakang (bukan belakang panggung lho ya?). Sayangnya, barisan di depan kami orang-orangnya tinggi semua, dan kami sebagai anak SD yang tingginya nggak tinggi amat (kecuali satu temen saya yang emang udah keturunan tinggi) nggak bisa ngelihat ke penonton (lebih tepatnya nggak kelihatan). Alhasil cuma ngedumel-dumel di belakang tanpa dapet solusi, hingga akhirnya ada orang baik hati yang menyuruh kami untuk naik ke kursi agar kami bisa terlihat oleh penonton. Naiklah kami ke kursi, tapi yang bikin kesel lagi adalah orang-orang yang di depan kami pun ikutan naik kursi, dan pada akhirnya kami tetep nggak kelihatan, nasib nasib -_______-".

English Test with Mr. Day

Mr. Day adalah julukan kami untuk guru bahasa Inggris di kelas kami. Yap, mister diartikan sebagai bapak, dan day adalah hari. Jadi nama asli guru kami ini adalah Pak Hari, cuma karena mata pelajaran yang diajar beliau, jadi kami plesetin jadi Mr. Day, hahaha.. Guru saya yang satu ini nggak bisa dibilang killer, nggak dibilang baik banget juga, rada gahol alias gaul, rame, tapi juga nyebelin.

Suatu ketika Mr. Day (panggilnya gini aja ya?) mengadakan ulangan harian, dan bukan Mr. Day namanya kalau nggak bikin ulangannya mantep alias sussaah. Dan bener aja, nggak semua anak dapet nilai bagus. Bahkan yang pinter sekalipun hanya dapet nilai yang cukup buat menghela napas tapi nggak bikin senyum senang (dikira-kira aja ya berapa). Tapi yang bikin saya inget kejadian ini adalah satu temen saya yang dapat nilai 0, dan dia amat bangga dengan nilainya itu (ada-ada aja :D).

Trio ABG

Bukan singkatan dari Anak Baru Gede lho yaa, tapi ini julukan buat temen-temen sekelas saya, terdiri dari Alan, Brama, dan Galih (maaf nama kalian saya sebut, hehe..). Ketiga temen saya ini paling jago banget main basket, kalo udah ngelawan mereka dijamin deh.. dijamin kalah maksudnya, haha.. Apalagi salah satu dari mereka ada yang jago nembak 3 point. Kalau mereka udah main, wiihh kayak nonton Slam Dunk, hahahaha :D/.

Cinlok Anak SD

Yang namanya cinta lokasi alias cinlok emang nggak terjadi sama artis di lokasi syuting doang, ada kalanya terjadi sama anak SD. Apa-apa yang kalau itu udah ada kaitannya hubungan cewek dan cowok pasti suka dianggapnya ada sesuatu. Kena senggol dikit, disorakin "adeuuuhhh...", deket dikit "adeeuhhh.", berantem dikit "adeuuuhhh", dan semuanya di-adeuh-in (padahal nggak ada yang sakit :Da). Suatu hari, nggak tahu awalnya gimana, salah seorang temen cewek saya nggak sengaja tabrakan dengan temen cowok saya. Naahh, gara-gara kejadian tabrakan itu, tersebarlah gosip yang nggak-nggak di seantero kelas, si cowok suka sama si cewek lah, tiap-tiap deket selalu disorakin "adeuh", lagi papasan disorakin lagi "adeuuh", dan gosip itu tetep bertahan sampe kelas 6 SD, berarti ada 1 tahun tuh ya? Hmm.. dasar anak SD! (kan kamu juga Des -___-a)

Mengintip Membawa Bencana

Karena judulnya agak kriminal, tokoh di cerita ini saya samarkan ya :D. Kejadian ini bermula ketika temen saya berinisial R sedang melihat aktivitas si D yang kelihatannya asyik banget menulis sesuatu yang "rahasia". Kenapa rahasia? Soalnya dia nulisnya sambil ditutup-tutupin gitu sih, jadi kan kayak yang lain nggak boleh lihat, hahaha...

Padahal niat si R nggak buat ngapa-ngapain, cuma barangkali aja dia penasaran sama yang D lakuin. Tapi karena D yang kaget ngelihat R yang ngelihat D lagi nulis, spontan si D langsung marah-marah sama R, dan terjadilah perang mulut di antara mereka. Si R yang terkenal sok dan nggak mau ngalah serta D yang ngerasa privasinya dilihat orang lain menambah kehebohan dalam perang mulut mereka.
Kejadian ini ngebuat temen saya, GL, langsung bereaksi. Awalnya mau ngelerai, tapi karena R orangnya nggak bisa diam dan banyak omong, GL langsung "menyekap" tangan R dan menyuruh GN untuk mengambil sesuatu yang bisa dipakai untuk mengikat tangannya (cara darimanaa ini), dan GN mendapatkan tali rafia yang nggak tahu dapat darimana. Mungkin GN jahil ya, tali rafia yang harusnya mengikat tangan R, jadinya malah ke lehernya, jelaslah si R kecekik, kasian banget. Tapi karena kejadian itulah tawa membahana di seantero kelas, ada-ada aja :D.

Berebut Ayam Serundeng

Agak aneh memang, kenapa makanan sejenis ayam ini bisa direbutin. Jadi gini ceritanya, suatu ketika seorang temen saya hobi bekel makanan dari rumahnya (saya juga sih :D), dia seneng banget bekel nasi plus ayam serundeng buatan ibunya. Entah kenapa, ayam serundengnya amat sangat teramat enak, hingga akhirnya ayamnya laku keras karena "dicuilin" sama temen-temen sekelas. Tiap dia bekel ayam serundeng, dan seketika itu ayamnya habis. Saya baru kepikiran sekarang, kenapa ibunya nggak bikin usaha jualan ayam serundeng aja ya, pasti bakal laris manis (dan termasuk saya pembelinya :D).  Karena larisnya ayam serundeng itu, saat dia ulang tahun, dia mengundang temen-temen sekelas untuk datang ke rumahnya dan mendapat jatah ayam serundeng 1 potong, sayang saya nggak bisa dateng waktu itu. Tapi entah kenapa setelah menulis tentang ini kok jadi kepengen ayam serundengmu, ahahaha XD..

Bersih-bersih Kelas

Emang udah jadi "budaya" ketika ada tokoh penting datang ke sekolah pasti semua warga mulai dari Kepsek sampe pejaga sekolah sibuk-sibuk sendiri, apalagi kalo bukan bersih-bersih sekolah. Waktu itu wali kelas kami, Pak Hobir, menyuruh kami untuk membersihkan kelas sebersih-bersihnya sekinclong-kinclongnya karena pada hari itu akan datang Walikota Bandung ke sekolah.

Bak menyambut artis, kita langsung menyapu, mengepel (yang biasanya jarang), membersihkan kaca, bahkan membersihkan debu di pojok kelas yang biasanya jarang dibersihkan, pokoknya sampe nggak malu-maluin kelaslah. Karena begitu pentingnya kedatangan Walikota ini, sampe-sampe wali kelas berdandan rapi dengan memakai jas, TOP abislah. Setelah dirasa kelas bersih. Kita pun menunggu kedatangan Walikota di kelas, sampe terdengar kabar bahwa Walikota tidak jadi datang ke sekolah melainkan stafnya. Udah aja, suasana jadi hampa, terutama capeknya abis ngebersihin kelas. Tapi ambil sisi positifnya aja ya, kelasnya jadi bersih, apalagi ngebantuin yang piket di hari itu :v.

Boy-boyan

Waktu kelas 6 SD, kelas saya sering banget kosong alias guru jarang datang ke kelas. Alhasil, demi mengisi waktu kekosongan itu (karena kita masih SD) kita bermain boy-boyan di lapangan. Ada yang nggak tahu boy-boyan? Itu semacam permainan dimana dibagi 2 grup, grup jaga dan grup apa tuh ya namanya anggap aja grup pengejar (aslinya bukan ini namanya, lupa :p). Akan ada tumpukan bata dimana nantinya grup pengejar akan mencoba untuk menghancurkan tumpukan itu. Kalau tumpukan itu nggak runtuh, permainan nggak akan bisa dimulai. Dan grup ini bisa berganti (grup jaga bisa jadi pengejar begitupun sebaliknya) ketika semua anggota pengejar nggak bisa ngeruntuhin tumpukan bata. Oya, ngeruntuhinnya pake bola tenis. Nah, kalau tumpukannya sudah runtuh. Giliran grup pengejar yang mengenai grup jaga menggunakan bola itu. Grup pengejar dikatakan menang ketika berhasil menaklukan grup jaga. Kira-kira gitu permainannya, maklum udah bertahun-tahun nggak main, hahaha...

Padahal udah kelas 6 ya, masa dimana kita harus serius menghadapi ujian akhir. Kelas lain mah pada serius belajar, tapi kelas kita yang rame sendiri teriak-teriak karena asyik main boy-boyan, salahnya nggak ada guru, hahahaha (don't try this guys :D).

The Last Moment

Ini adalah momen terakhir yang kami buat semasa kami SD, acara perpisahan. Kalo nggak salah inget, perpisahan saya ini dilaksanain di Dago Pakar, tepatnya di Taman Ir. H. Juanda, Bandung. Hal yang nggak bisa saya lupain adalah ketika kami membuat barisan panjang dan menyanyi disana. Di saat itulah saya mencoba untuk tidak menangis (walau saat itu udah keluar air matanya), karena mengingat bahwa sehabis acara perpisahan kita akan berada di SMP tujuan kita, berpisah satu sama lain dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Dan yang paling berat ketika harus berpisah dengan wali kelas kami waktu kelas 5 yang super banget, Pak Hobir. Haahh, nggak bisa ngelupain momen ini :').

Sebenernya masih banyak kejadian lucu yang saya alami waktu SD dulu. Tapi berhubung memori terbatas, jadi hanya cerita-cerita di atas yang masih saya inget sampe sekarang. Meski udah bertahun-tahun berlalu, semoga kenangan ini nggak mudah untuk dilupain, sampe kapanpun :')

*
Post ini saya didedikasikan untuk temen-temen sekelas saya di SD Negeri SOKA Unggulan Bandung beserta wali kelas saya tercinta, Pak Hobir dan Pak Dadang (alm.) juga guru-guru yang mengajar kami. Saya nggak akan bisa begini tanpa jasa kalian Pak, Bu, terima kasih :')
Continue reading Putih Merah

1 September 2011

Ramadhan's Story

Assalamu 'alaikum ...

Wakss, lebay juga ya judul postingan saya kali ini, hahaha :D, tapi nggak apa-apalah (ceritanya emang lagi nggak ada ide buat bikin judulnya :p), sampe saya bingung ini bakalan posting apa, hahahahadduuuhhh =w=a.

Entah kenapa, saya merasa waktu yang saya habiskan di bulan Ramadhan di masa kecil begitu menyenangkan dibandingkan dengan masa saya sekarang, mungkin karena saya waktu itu masih kecil yang nggak tahu apa-apa? (sok polos banget gue :3), tapi bener deh saya memang merasa seperti itu..

Saya nggak tahu pastinya sejak kapan saya mulai berpuasa (bener-bener puasa dari shubuh sampe maghrib), yang jelas waktu SD saya sudah bisa kuat berpuasa sebulan penuh, ayeeey ^_^d (kecuali karena sakit).

Oyaa, waktu masa-masa SD itu, ketika bulan Ramadhan datang adalah hal yang membahagiakan buat saya :
Pertama, waktu belajar di sekolah jadi lebih singkat dibandingkan jam belajar biasa, jadi bisa pulang cepet deeeh, hahaha :D (pelajar yang nggak baik ini); 
Kedua, biasanya di bulan Ramadhan itu di sekolah saya suka diadain sanlat alias pesantren kilat (dan kayaknya hampir di semua sekolah negeri dan Islam begitu -.-), dan entah kenapa saya seneng aja, selain bisa nambah wawasan tentang agama Islam, yang pasti nggak belajar, hahahahahaha :D (kayaknya seneng bangeeeeeeeet nggak belajar tuh ya ~w~);  
Ketiga, biasanya juga, jam-jam pelajaran di bulan ini suka kosong, daaaann temen-temen sekelas saya punya berbagai macam kegiatan dalam mengisi jam kosong itu, diantaranya, main kartu, main monopoli, ular tangga, bola bekel, dan berbagai jenis permainan lainnya, nggak yang cewek ataupun cowok semuanya berpatisipasi dalam kegiatan ini, wakakakak XD (ya ampuuuuuun =w=");   Keempat, naaahh momen yang ditunggu-tunggu nih, buka puasa bersama di sekolah, kalo SD sih, biasanya bawa bekel sendiri, pernah juga sih waktu kelas 5 saya dan beberapa teman botram alhasil banyak sisa makanan yang nggak termakan :(, tapi ya seneng aja gitu bareng sama temen-temen bisa buka puasa di sekolah :). satu lagi nih yang lupa, saya masih inget, saya dan beberapa sahabat saya, suka banget ngabuburit di rumah salah satu diantara kami, salah satu yang saya bener-bener inget adalah kita pernah membuat kartu lebaran dengan kreasi masing-masing, sungguh menyenangkan :').

Buat saya, bulan Ramadhan adalah bulan dimana saya dan teman-teman banyak mengisi waktu yang benar-benar menyenangkan dibandingkan bulan-bulan lainnya ^_^d.

Naah, yang tadi itu cerita bersama teman-teman di sekolah saya, gimana nih sama teman-teman di rumah?

Waktu SD itu, saya paling getol alias rajin yang namanya shalat tarawih ke mesjid, belum waktunya shalat isya, bahkan setelah buka puasa pun saya langsung pergi ke masjid (kebetulan masjidnya depan rumah banget) buat nge-booking tempat buat shalat (gaul banget bahasanya, nge-booking ~w~), soalnya saya nggak shalat sendirian nih, tapi bareng sama teman-teman main saya, udah dicarter nih, misalnya yang shalat si A, si B, si C, dan si D, maka saya harus nyiapin tempat buat 4 orang, hahaha :D. Tapi yang lucu adalah bukan saya aja yang melakukan hal itu, tapi anak-anak lain yang seusia saya juga gitu ^_^.

Salah satu kegiatan yang biasa dilakuin saya dan teman-teman saat tarawih adalah mengisi buku ceramah dan jajan ke warung (heeee? jajan ke warung?). Yap, jajannya biasanya kalau nggak sebelum shalat isya yaaa pas lagi khutbah itu (nakal ya saya, hahaha :D), jadi sambil ngisi buku ceramah sambil ngemil juga, hehehe ... dan begitu khutbah selesai dan shalat tarawih akan dimulai, biasanya kami nggak shalat sampe full dengan alasan buku ceramahnya belum penuh terisi, atau ... lagi males ! (yaa ampuuuuun...), tapi rame aja sih, hahahaha :D.

Kadang kita suka ngobrol-ngobrol juga waktu orang-orang shalat tuh, sampe kita pernah dimarahin sama ibu-ibu gara-gara terlalu ribut, pengalaman yang nggak terlupakan deeeh.. pernah juga, saya dan kedua teman saya yang hobinya sama nih, baca komik, saking cintanya ama itu komik-komik (lebay bahasanyaa =w=), kita sampe bawa itu komik ke mesjid, kadang sampe dibaca juga, hahahaha :D. daaaaaaaaaaannn..... yang paling paling paliiiiiiiiiiiiiing nggak bisa dilupain adalah sehabis shalat biasanya saya dan temen-temen satu RT itu langsung berkumpul di depan rumah siapapun buaaaaat, main kembang api dan petasan, wuiiih... rame banget deh pokoknya, dar der dor, buuum! seruuuu banget, saya sih cuma bagian nonton ama teriak-teriaknya aja sih, hahaha :D, gara-gara itu makanya kadang nyampe rumah jam 9 ato setengah 10 malem gara-gara nonton itu dulu XD.

Cerita Ramadhan semasa saya kecil tuh bener-bener nyenengin banget, kadang saya kangen juga pengen banget ngulang masa-masa itu, habis mau gimana lagi, teman-teman sebaya saya kan udah pada gede semua, ya yang SMA, ya kuliah, ato bahkan sekarang ada yang kerja, udah pada sibuk sama urusan masing-masing. meski begitu, semua pengalaman itu nggak akan pernah saya lupakan ^_^d !
Continue reading Ramadhan's Story