Tampilkan postingan dengan label Random Talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Random Talk. Tampilkan semua postingan

18 Mei 2020

Blog atau Vlog?


Finally, setelah hampir 3 tahun lamanya vakum, bisa menyempatkan waktu lagi untuk menulis blog. Setelah banyak mempertimbangkan ini dan itu (baca : malas, wkwk), memutuskan untuk kembali menarikan jari-jemari di atas keyboard. Tapi sebelum berbicara ngalor-ngidul pada tulisan kali ini, aku pengen ngomong sesuatu.

Hai, apa kabar? Lama yaa nggak jumpa. Semoga kamu yang membaca ini sehat selalu yaa.

Sudah hampir 3 bulan Indonesia dilanda duka. Virus Corona (atau Covid-19) yang menyerang seluruh pelosok Negeri bahkan Dunia membuat segala aktivitas terkena imbasnya. Membuat mereka yang terkena dampak, jelas dirundung luka. Namun di balik salamku tadi, semoga menjadi doa agar yang sedang sakit bisa terangkat segera penyakitnya, agar yang masih sehat tetap terjaga imunnya, dan kita semua selalu ada dalam lindungan-Nya. Aamiin.

Well, berbicara tentang aktif ngeblog lagi, sebenernya beberapa waktu yang lalu aku sempet dilema ketika memilih antara blog atau vlog. Seperti yang temen-temen tahu kalau saat ini sedang viral sekali orang-orang menjadi Youtuber. Dari anak-anak, remaja, bahkan selebgram dan artis berlomba-lomba membuat konten kreatif hingga menjadi trending.

Tapi jangankan untuk memilih, niat untuk menulis blog aja selalu tertunda. Padahal udah niat banget sampe ganti domain dari yang gratisan dari blogger menjadi domain berbayar. Alasannya lucu sih. Jadi dulu alamat blogku itu http://www.dhezdhezkawaii.blogspot.com/. Karena blog ini dibuat saat masih SMA dan aku yang senang dengan hal-hal berbau Jepang terciptalah nama itu. Dhez yang merupakan singkatan dari namaku Destiany. Kawaii yang merupakan bahasa Jepang dari Lucu. So, keliatan alay kan ya? Wkwk. Itu pandanganku ketika membuka blog ini lagi saat sedang duduk di meja kantorku.

So, yaa alhamdulillaahnya ada rezeki saat itu, aku memutuskan untuk mengganti domain itu supaya keliatan elegan lah (ceritanya). Destiaprawidya.com. Diambil dari nama lengkapku, Destiany Prawidyasari. Supaya tidak nampak panjang sekali dan sulit dalam menuliskannya, sehingga diambil beberapa suku kata depan dan tampak berima hehe.

Namun sayang disayang, meski sudah ganti domain pun masih belum membangkitkan semangatku untuk menulis. Selain karena sibuk bekerja, kadang lembur. Sibuk rebahan, scrolling sosmed, atau marathon drama korea, sehingga keinginan menulis lagi-lagi tertunda.

Kemudian mencoba untuk mengganti template blog. Mencari yang desainnya lebih simple, nggak padat, SEO friendly dan responsive jelas. Dan kayaknya sebulan yang lalu menemukan desain template yang pas di mata pas di hati. Namun meski sudah ganti template yang sesuai selera, masih aja belum bisa menggelitik hati untuk mau lagi menulis. Duh Des..

Dari ceritaku tadi kayaknya udah kelihatan jelas yaa akhirnya milih apa, hehe. Aku memilih untuk menulis blog ketimbang membuat vlog. Meski sama-sama harus memikirkan konten yang mau dipublish, tapi dengan ngeblog, semua ide langsung tertuang begitu saja dalam tulisan. Membangkitkan segala imajinasi kemudian membuatnya menjadi sesuatu yang dapat dibaca. Vlog juga tentu perlu konsep, kadang harus ditulis juga, cuma ribetnya itu nanti harus edit ini itu supaya vlognya nanti layak dan menarik untuk ditonton.

Berhubung ini juga blog pribadi, jadi segala hal yang ingin aku ceritakan, aku bagi, dengan bebas aku publish disini. Lucu juga ketika membaca tulisan-tulisan lamaku beberapa tahun yang lalu (Blog ini sudah dibuat sejak tahun 2008), aku bisa kembali mengingat memori di masa lalu. Masa kecil, masa sekolah, hingga masa kuliah yang saat ini hampir aku lupakan. Senyum-senyum sendiri. Malu sendiri karena melihat tulisan-tulisan dahulu kala yang alaynya tak tertahankan. Baper sendiri karena baca tulisan tentang sang mantan hehe. Seru pokoknya. Itu juga yang jadi alasanku untuk tetap mempertahankan blog yang kubuat sejak SMA ini meski isinya udah nggak karuan.

Well, one day ada rencana juga sih bikin vlog. Waktunya kapan ya ditunggu aja. Lagi nunggu momen yang pas aja buat bisa seru-seruan bikin vlog. Tapi nggak  janji juga yaa hehe.

Udah lama juga nggak blogwalking, kangen juga. Menyapa para blogger yang lain. Apa kabar ya teman-teman blogger disana? Semoga sehat selalu yaa..
Continue reading Blog atau Vlog?

15 Maret 2014

Ber-ODOJ di Malam Minggu

Jangan pernah heran kalau malam Minggu atau bahasa kerennya satnite jalan raya selalu dipadati oleh kendaraan, terutama kendaraan bermotor dua. Dan jangan heran juga kalau yang mengisi jalanan itu adalah pasangan muda-mudi yang menikmati malam yang katanya pas banget buat ngedate atau ngapel. Nggak heran juga kalau jalanan macet, walau macetnya Jember belum semacet di Bandung. Malam ini kebetulan saya mengisi satnite dengan kumpul angkatan, dalam rangka mempersiapkan untuk arak-arakan wisudawan besok pagi. Juga sudah janjian dengan adik tingkat untuk asistensi praktikum.

Malam ini terasa begitu padat buat saya. Keluar rumah jam setengah 8, saya harus menggandakan laporan pertanggungjawaban Himpunan di tempat fotokopian dulu, memakan waktu yang cukup lama karena halaman laporan banyak. Setelah itu, saya segera menyusul teman-teman saya yang sudah lebih dulu kumpul. Awalnya mau berkumpul di Gedung Dekanat dipindah ke rumah teman saya karena terjadi pemadaman disana.

Menyusuri Jalan Jawa di malam Minggu seperti ini rasanya begitu menyebalkan bagi saya. Kenapa? Karena saya sudah janjian asistensi jam 8 malam sehingga saya harus mengejar waktu. Macet yang terjadi bukan hanya karena banyaknya motor yang memadati jalanan, tetapi karena ada sebuah acara yang diadakan oleh salah satu operator seluler Indonesia di sebuah cafe.

Setelah satsitsut nyelip kanan kiri, akhirnya saya merasa sedikit leluasa untuk bisa menambah kecepatan motor saya. Namun tiba-tiba saya memperlambat laju motor saya karena melihat sesuatu yang membuat saya penasaran. Sebuah banner berwarna hijau dipasang melingkari pinggiran air mancur di bundaran dekat DPRD, tulisannya "One Day One Juz". Lalu saya melihat beberapa perempuan berjilbab duduk di pinggiran sambil tilawah. Subhanallah, di tengah ramainya malam Minggu ini, di tengah para muda-mudi yang menghabiskan waktu untuk sekedar berjalan-jalan saja atau bersenang-senang, ada orang-orang yang memanfaatkan waktu malam seperti ini untuk bertilawah.

Ilustrasi (source)
Sebelum saya lanjutkan cerita saya, barangkali udah tahu kan kegiatan "One Day One Juz"? Saya kutip dari situsnya, bahwa One Day One Juz atau disingkat dengan ODOJ ini adalah program yang diinisiasi oleh Rumah Qur’an untuk memfasilitasi dan mempermudah kita dalam tilawah Al-Qur’an dengan targetan 1 juz sehari (onedayonejuz.org). Dari dakwatuna.com, ODOJ merupakan program atau metodologi agar para pembaca (Al-Quran) bisa dan terbiasa mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu sebulan. Subhanalloh, kegiatan yang amat sangat bermanfaat. Saya tahu tentang ODOJ dari beberapa post teman-teman saya di Facebook bahwa yang dirasakan setelah ber-ODOJ amat sangat luar biasa. Sungguh pengalaman dan perjuangan yang ... wah, nggak bisa deh diungkapkan dengan apapun.

Pemandangan mengenai pasukan ODOJ tadi menyentil hati saya. Meskipun aktivitas di dunia amat padat, tapi tak pernah melupakan urusan akhirat untuk bertilawah, bahkan bisa menyelesaikan 1 juz dalam sehari. Betapa saya yang hanya disibukkan dengan skripsi saja, hanya mampu membaca tidak sampai 1 juz. Itupun membacanya kalau tidak sehabis sholat Shubuh ya Maghrib-nya. Pemandangan yang amat kontras ketika masyarakat lain berseliweran dengan aktivitas malam Minggunya, mereka para pasukan ODOJ istiqomah dengan kegiatan tilawahnya. Mudah-mudahan saya bisa segera meluangkan waktu untuk bisa One Day One Juz juga, dan tentunya bisa istiqomah dalam program ini, bismillah :)

* Kegiatan mereka tidak sempat saya abadikan mengingat saya harus terburu-buru mengejar jadwal saya untuk kumpul angkatan dan asistensi, maaf yaa :(
Continue reading Ber-ODOJ di Malam Minggu

11 Maret 2014

Penipuan Berhadiah

Siang tadi saya dikejutkan oleh telepon dengan nomor yang tidak dikenal, nomornya 0816964xxx. Bagai tertimpa buah durian di siang bolong, karena ternyata si penelepon mengatakan bahwa saya baru saja memenangkan undian dengan hadiah 15 juta rupiah dan pulsa sebesar 1 juta rupiah. Kebayang nggak tuh kalau tiba-tiba ada seseorang yang bilang bahwa kita mendapatkan rezeki sampe jutaan, kalau nggak loncat-loncat di kasur, guling-guling, jedugin kepala ke tembok, ini seneng apa nyiksa ya? haha. Saya nggak melakukan semuanya itu, saya cuma duduk diam mendengarkan si penelepon panjang kali lebar. Lebih kurang gini percakapan saya dengan si penelepon (P : Penelepon, S : Saya) :

P : "Halo, assalamualaikum, benar ini dengan nomor 0857973xxxxx?"
S : "Ya, benar."
P : "Saya dari PT. Ind*s*t Pusat memberikan kabar bahagia untuk Ibu."
Sesaat saya terdiam dipanggil Ibu.
S : "Ya? Ada apa ya?"
P : "Sebelumnya boleh tahu nama Ibu?"
S : "Rina (nama asli saya disamarkan)."
P : Oya, Ibu Rina, Ibu baru saja mendapatkan hadiah undian dari perusahaan kami, 15 juta dan pulsa 1 juta rupiah Ibu, selamat ya.."
S : "Oh yaa (datar)."
P : Ibu Rina benar kan berdomisili di Jawa Barat?"
S : "Betul, saya tinggal di Jawa Barat (padahal saya lagi di Jember :p)."
P : "Wah, kebetulan sekali. Kami dari PT. Ind*s*t Pusat di Jakarta Bu, nomor Ibu telah terpilih sebagai pemenang, ini sudah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, Ibu. Selamat ya Bu.
S : "Yaa... (datar lagi)."
P : "Iya Ibu, hadiah ini diberikan langsung, pajak ditanggung oleh kami."
S : "Okee.."
P : "Ehm, Ibu punya atm? Nanti uangnya akan kami kirim, Ibu tinggal sebut saja dengan mengirimnya menggunakan nomor Ibu ini."
S : "Punya."
P : "Bank mana ya kalau boleh tahu?"
S : "Mand*ri."
P : "Kalau bank lain ada?"
S : "Nggak ada, cuma Mand*ri itu aja."
P : "Sekarang Ibu bawa atm?"
S : "Nggak, saya lagi di luar."
P : "Oo..oh iya, atmnya namanya atas nama Ibu atau suami?"
S : "Bukan, itu atas nama saudara saya."
P : "Yang sendiri tidak ada?"
S : "Nggak punya, yang punya atm itu saudara saya, sekarang saudara saya lagi di rumah."
P : "Ibu bisa ke rumah dulu untuk ambil atm-nya? (wah, mulai maksa..)"
S : "Hm, gimana ya, gini aja, saya hubungi saudara saya dulu aja ya buat ngambil atm-nya, takutnya dia kemana-mana."
P : "Oh iya Bu, nanti kalau sudah segera hubungi nomor ini ya."
S : "Iyaa.."
P : "Terima kasih Bu, assalamualaikum."
S : "Waalaikumsalam."
Dan diakhiri dengan suara ayam berkokok di balik teleponnya.

Jengjeng, dari percakapan kami ini bisa menebak sesuatu? atau dari respon saya yang biasa padahal diberitahu bahwa saya mendapat uang 15 juta? Yap, betul banget, ini penipuan berkedok undian berhadiah. Kenapa kok saya bisa tahu ini penipuan? Pertama, saya nggak pernah liat di iklan di tivi maupun sosmed bahwa operator seluler yang saya gunakan ini mengadakan acara undian. Kedua, nomor saya nggak pernah saya daftarin di kuis atau acara berhadiah apapun. Ketiga, dari cara ngomongnya nggak meyakinkan kalau dia karyawan disana, makanya ketika ditanyain nama ya saya samarin, haha. Keempat, nomor yang menghubungi saya terlalu umum kalau disebut berasal dari perusahaan tersebut, kan biasanya kalau ada SMS info apaa gitu, pasti pengirimnya bertuliskan asal operator, apakah itu Telk*msel atau Ind*s*t. Kelima, mana ada perusahaan bertaraf nasional gitu pas nelpon bisa ada suara ayam di belakangnya? paraaah -_-. Makanya itu saya udah tahu dari awal kalau ini penipuan, saya beruntung insting detektif saya bekerja, hahaha (banggain diri sendiri nggak apa-apa ya :D).

Penipuan serupa sering saya jumpai sebelumnya, tapi biasanya lewat pesan singkat. Mulai dari jual beli tanah, rumah, sampai kayak gini nih, undian berhadiah. Hadiahnya sama lagi, 15 juta. Nggak bisa kreatif apa ya, yaa hadiahnya kayak rumah sama mobilnya gitu, ngarep itu mah Des, hehe. Seringkali saya jenuh dengan pesan singkat seperti ini sampai berkomentar sendiri : apa nggak bisa disaring nomor-nomor yang mengirimi sms bermasalah ini?
source
Meskipun emang lagi butuh banget uang buat biaya skripsi dan wisuda, tapi saya masih punya nalar. Jadi ketika ada orang yang menelepon saya dengan tiba-tiba ngasih uang berjeti-jeti, saya cek dulu bener apa nggak nih. Jangan-jangan bukan cuma ayam berkokok yang jadi backsound di balik telepon, ntar malah suara jangkrik yang ada. Nah lho, elo nelpon darimane? Haha.

Buat sahabat blogger yang barangkali mengalami hal serupa atau yang belum pernah sama sekali harap berhati-hati terhadap penipuan seperti ini, amat sangat banyak caranya. Bahkan yang berbahaya adalah dengan cara menghipnotis. Makanya itu saya nggak sebut nama asli karena takutnya ketika nama saya disebut diapa-apain lagi. Bukannya su'udzon, tapi waspada juga penting kan? Kalau ada Bang Napi, pasti bakal ngomong : Waspadalah, waspadalah ! :D
Continue reading Penipuan Berhadiah

14 Januari 2014

Precious Things

Pernah nggak sih kehilangan sesuatu berharga dalam hidup temen-temen? 

Gimana rasanya? 

Sakit, sedih, kecewa, atau biasa aja? (Haaah, kalau biasa aja sih nggak bisa dibilang berharga juga ya? -_____-).

Bukannya pengen mendewakan atau men-Tuhankan sesuatu (barang) itu ya. Hanya merasa gimanaa gitu ketika punya suatu barang yang udah kita jaga dan rawat selama bertahun-tahun, kemudian hilang begitu saja. Apalagi kalau barang itu sudah mengisi hari-hari kita. Ketika kita butuh, dia selalu ada. Ketika kita kesepian, dia selalu menemani. Ett, bentar, bentar, ini ngomongin barang atau pacar sih?

Sebenernya bukan dari masalah mahalnya juga. Kadang ada orang yang sedih kehilangan barang, karena harganya yang berjuta-juta, atau belinya di luar negeri, atau langka, atau dikasih sama seseorang yang spesial, daan atau-atau lainnya. Tapi buat saya, yang bikin berharga dari barang saya itu adalah kenangannya. Kenangan yang tercipta bersama "si barang kesayangan" selama bertahun-tahun.

Ada 3 barang berharga saya yang sekarang udah hilang entah kemana. Pertama, pensil mekanik. 

Kok bisa pensil mekanik? 

Mungkin orang lain akan berkomentar, "Alaah, cuma pensil mekanik kok, di toko masih banyak, tinggal beli aja, gitu kok repot." atau ada juga yang berkomentar, "Emang berapa sih harganya? Mahal banget ya? Kalau murah, ya tinggal beli aja sih.". Sekali lagi, bukan dari harganya yang saya pikirin. Justru pensil mekanik yang saya beli itu adalah pensil mekanik yang termurah yang pernah saya beli. Waktu itu saya beli pensil mekanik ini di salah satu toko alat tulis (stationery) di Kota Bandung. Di rak pensil, saya menemukan setumpuk pensil mekanik. Yang bikin saya tertarik adalah bentuknya yang amat teramat simpel, polos, dan yaa murah. Saya beli pensil mekanik itu dengan harga 800 rupiah. Hanya dengan harga yang kurang dari ongkos angkot jarak dekat saja, saya bisa mendapatkan barang itu. 

Terus yang jadi masalah apa kalau kehilangan pensil itu, murah banget kan?

Ya, emang murah. Tapi yang bikin saya sayang sama pensil saya itu adalah awetnya. Akhir-akhir ini saat saya beli pensil mekanik, tidak pernah ada yang bertahan lama seperti pensil saya yang satu itu, paling sebentar 3 bulan, paling lama pun nggak sampe setahun (atau barangkali saya yang nggak bisa jaga barang ya? hehe..). Pensil  mekanik itu ada selama hampir 3 tahun kalau nggak salah. Meskipun sering jatuh, ganti isi pensil, pensil mekanik itu nggak pernah rusak. Selain itu, yang saya senangi dari pensil mekanik itu adalah nyamannya. Ada kan alat tulis yang kalau kita pake malah bikin tulisan kita jadi jelek? Atau emang bener-bener bikin nggak enak buat nulis (terkadang ada faktor dari si empunya :D). Pensil mekanik saya itu bener-bener enak banget untuk dibuat menulis. Kadang bikin tulisan saya jadi bagus, hehe.. Oya, ada lagi hal yang buat pensil itu jadi berharga buat saya. Dia selalu ada dalam setiap saya membuat tugas dan mengerjakan ujian (Ya iyalah, kalau nggak ada, berarti emang beneran hilang -____-). Karena hal-hal itulah, saya membuat pensil mekanik itu jadi terasa berharga buat saya.

Saat kehilangan pensil itu, rasanya sedih banget. Sedih, karena nggak ada pensil cadangan, hahaha.. Bercanda, bercanda. Ya mau gimana nggak sedih, pensil yang selama ini kita pakai setiap hari, ada saat kita butuh, tiba-tiba lenyap begitu saja. Bikin saya nggak mood untuk mengerjakan tugas saat itu, bahkan kepikiran. Dicari kemanapun nggak ada. Haahh, pensil, dimana kamu? (lho?). Ett, kok jadi agak membelok gini? Oke, kita lurusin dulu, krekk.. Lanjut. Banyak banget deh sejarah yang saya buat dengan pensil saya yang satu itu.

Kedua, handphone. Kalau barang yang satu ini emang kelihatannya mahal. Secara, harganya yang bisa bikin sakukurata (dibaca : sakuku rata). Tapi sekali lagi saya pengen bahas, kalau ini bukan harganya (siihh, mbaknya punya uang banyak ya :v). Handphone saya yang satu ini adalah pemberian dari ayah saya, LG GW300. Dulu waktu masih barunya bisa di atas 1 jutaan, kalau sekarang nggak tahu sih. Yang bikin saya senang dengan handphone itu adalah kameranya. Maklum, karena saya anak yang jarang punya handphone mahal, jadi ketika dibelikan handphone itu senengnya bukan main. Dulu, saya kepengen banget bisa jepret momen-momen berharga yang terjadi dalam perjalanan hidup saya, dan akhirnya pun bisa kesampaian. Sampe momen bersama pacar pun (ehem) diabadikan dengan handphone saya ini, hehe.. Belum lagi video yang saya simpan di handphone itu. Saya sering merekam aktivitas adik sepupu saya yang saat itu masih bayi. Cukup banyak video yang tersimpan. Dan satu video yang selalu buat saya ketawa ketika melihatnya, video joget ala SM*SH yang dipertunjukkan oleh temen sekelas saya. Selain itu adalah music playernya dan radio.

Lah, cuma itu, kan bisa sih pake radio dan mp3 player lainnya?

Emang iya. Tapi kan kalau radio nggak mungkin dibawa kemana-mana, apalagi radio di rumah saya ukurannya besar gitu. Kalau pake mp3 player kadang nggak praktis. Saya seneng sms-an, jadi bisa dengerin lagu sambil sms-an, hehe.. Apalagi saat mengerjakan tugas, saya nggak tahan kalau belajar nggak sambil dengerin lagu. Kayak makan nggak pake kerupuk, hambar rasanya. Menjelang ujian masuk universitas pun, saya selalu gunakan music player di handphone saya itu untuk menemani waktu belajar saya. Sayang, karena kecerobohan saya, handphone itu pun hilang di kampus saya sendiri. Kronologinya nggak akan saya ceritain ya, takut keinget, takut sedih, takut nangis lagi :(. Yang jelas, 2 tahun bersama handphone itu teramat berarti dalam hidup saya.

Ketiga, tempat minum. Memang kelihatannya agak aneh ya, sampe segitunya sayang sama tempat minum. Barang satu ini udah saya miliki selama 3 tahun. Saya ingat waktu awal-awal kuliah, ibu saya membelikannya. Sejak SD, saya sudah terbiasa bekal dari rumah, bekal makan dan minum sampe berlanjut di bangku kuliah. Tempat minum yang simpel, sebenernya biasa sih, nggak ada yang istimewa dari barang ini. Tapi yang bikin saya betah menggunakan barang ini adalah selalu dibawa kemanapun dan dimanapun. Aktivitas saya kuliah bisa dari pagi sampe sore. Malas juga kalau harus terus merogoh kocek untuk membeli air mineral atau minuman lainnya di luar, sehingga saya memutuskan untuk membawa minum dari rumah setiap saya kuliah atau aktivitas di luar lainnya. Selain itu, bermanfaat bagi orang lain. Kadang ada juga temen-temen yang suka minta air dari saya. "Des, bawa minum?", "Des, minta minumnya yaa?". Dan entah kenapa saya merasa barang saya yang satu ini bisa bermanfaat untuk orang lain, hehe..

Tempat minumku :'(
Suatu ketika, saya dan temen-temen asisten lab jalan-jalan ke pantai. Saya kepikiran untuk membawa tempat minum dari rumah, dan akhirnya dibawalah barang itu. Saya simpan di kantong kiri tas saya. Saat pulang, hujan deras dan banjir yang cukup parah. Saya berlindung di jas hujan teman saya sambil melindungi tas agar tidak kebasahan. Sampai di Jenggawah (suatu wilayah kecamatan di Jember), tiba-tiba tempat minum saya jatuh. Karena panik, saya minta teman saya untuk menepikan motor dan saya turun untuk mengambil tempat minum saya itu. Di jalan itu cukup ramai, sehingga saya kesulitan untuk mengambilnya. Terlebih lagi banjir yang agak dalam dan hujan deras, membuat saya ragu untuk mengambil barang kesayangan saya itu. Arus banjir yang deras membuat tempat minum saya terbawa sampai ke got atau selokan. Daan yaah, saya terlambat untuk mengambilnya. Tempat minum saya lenyap untuk selama-lamanya, hiks..

Dari kisah ini saya belajar bahwa kita harus bisa menjaga barang dengan baik, sekalipun itu bukan barang kesayangan. Ketiga barang kesayangan ini pun hilang karena kecerobohan saya. Tapi rasanya bener-bener amat kehilangan waktu ketiganya lenyap itu. Bahkan handphone saya yang hilang itu membuat saya jadi nggak bersemangat menjalani aktivitas dan terus kepikiran. Kelihatannya berlebihan sih, tapi yang namanya udah kesayangan, bertahun-tahun bersama, gimana lagi. Tidak bermaksud untuk mendewakan barang lho ya, sekali lagi saya ingatkan. Bagi saya, kehilangan barang berharga hampir sama rasanya kayak kehilangan seseorang yang kita sayangi. Mereka begitu berharga, dan ketika hilang atau pergi, kita bener-bener merasa kehilangannya.

Ketiga barangku yang berharga, terima kasih sudah menemaniku selama ini :')
Continue reading Precious Things

6 Januari 2014

Yang Muda, Yang Memilih

Mungkin emang amat telat ya buat ngepos berita yang satu ini. Ya iyalah, secara acaranya udah setahun yang lalu, tepatnya bulan Desember 2013 (eh, sebulan yang lalu ya, hehe :D). Tapi nggak ada salahnya kan ya tetep dipost? Nggak salah kan, iya kan? (maksa -_-")

Tanggal 9 Desember 2013 kemarin, Universitas Jember kedatangan tamu dari KPUD Jember. Wah, ada apa ini ya kok tiba-tiba dateng ke kampus saya? Yap, dalam rangka event "KPU Goes to Campus", KPUD Jember bersama KPU RI menyelenggarakan sosialisasi pemilu untuk pemilih pemula. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan di Ruang Lantai III Gedung Rektorat Universitas Jember mulai pukul 8 pagi sampai jam 12 siang. Untuk peserta sosialisasi sendiri terdiri dari perwakilan mahasiswa dari tiap ormawa di tiap fakultas juga beberapa orang (diantaranya mahasiswa S2) yang tergabung dalam Relawan Demokrasi.

Oya, sebelum masuk ke ruangan, kita harus registrasi dulu, nulis nama dan tanda tangan, selesai, terus pulang. Eh salah, maksudnya masuk ruangan, hehe.. Dan beruntung, setelah registrasi setiap peserta diberi merchandise berupa tas yang berisi blocknote, pulpen, topi dan kaos (gretong alias gratis :D), eh iya ketinggalan, dapet snack juga.

Merchandise dari KPU :D
Saat masuk ke dalam ruangan, sudah cukup banyak peserta yang mengisi tempat duduk. Di depan ada pegawai KPU yang sedang mempersiapkan acara. Pada intinya sih acara belum dimulai, hehe.. Ada lah setengah jam kemudian, acara pun dimulai. Ya seperti biasa, ada pembukaan, sambutan, doa dan penutup. Udah itu pulang. Ehhh, nggak dong. Setelah itu, baru dimulai acara intinya. Dimoderatori oleh Ketua KPUD Jember (namanya Ibu sapa itu, saya lupa -.-), dan keynote speakernya ada anggota KPU Jatim, Pak Arief Budiman (lihat profil beliau disini), Ketua MUI Jember serta Dekan Hukum Universitas Jember.

Untuk pembicara pertama, Pak Arief Budiman berbicara mengenai pentingnya pemilih pemula dalam Pemilu. Secara, rata-rata usia mahasiswa kan di atas 17 tahun ya? Jadi, udah punya hak pilih dalam pemilu. Berbicara tentang hak pilih, sebenernya apa sih syarat-syarat untuk ikut pemilu? Pertama nih, usia harus sudah 17 tahun dan tentunya dibuktikan dengan KTP (sekarang mah e-KTP). Kedua, WNI alias Warga Negara Italia eehh Indonesia dong. Ketiga, boleh di bawah 17 tahun, tapi sudah menikah (nikah resmi lho bukan nikah siri :D). Keempat, sedang tidak dalam masa pidana penjara alias terikat dengan permasalahan hukum yang mengharuskannya dikurung dalam LP. Kelima, sedang tidak terganggu jiwa/ingatannya. Keenam, dan ini emang amat teramat penting, tercantum sebagai daftar pemilih tetap, hohhaaahaha ya iyalah :D.

Terus, kenapa penting pemilih pemula itu? Jelas, usia masih muda, dan masa depan pun masih panjang. Akan banyak harapan-harapan yang dimiliki para pemilih ini untuk Indonesia. Dan tentunya perlu untuk memberikan arahan kepada temen-temen pemilih tentangnya pentingnya memilih.

Kata beliau, untuk pemilu 2014 ini bisa dikatakan lebih baik dibandingkan pemilu di tahun-tahun sebelumnya. Kenapa? Karena sekarang zaman sudah banyak dipengaruhi dengan Teknologi Informasi alias IT, jadi Pemilu 2014 pun berbasiskan dengan IT. Kalau dulu, sering banget nih permasalahan muncul dari pemilu, mulai dari daftar pemilih ganda, masyarakat yang harusnya nggak punya hak pilih tapi dapet surat undangan memilih (C4 kalo nggak salah namanya), tokoh caleg yang memampangkan namanya lewat banner dan poster (tapi aslinya nggak tahu siapa), dan segudang permasalahan lainnya. Naah, kata Pak Arief, untuk sekarang permasalahan itu nggak akan muncul lagi. Karena apa? Ya karena teknologi informasi telah membantu segalanya. Untuk semua informasi soal pemilu, temen-temen bisa mengakses website resmi KPU di www.kpu.go.id. Di website tersebut temen-temen bisa mencari informasi mengenai tokoh-tokoh caleg DPR dan DPD yang maju di pemilu 2014. Hey, hey, siapa diaa? Temen-temen bisa tahu dengan mengakses profil mereka di website tersebut.
Tampilan website KPU (yang ditandai itu adalah daftar calon tetap DPR dan DPD dalam pemilu 2014)
Nah, terus kalau pengen tahu tentang daftar caleg DPR dan DPD tersebut, bisa klik menu yang ditandai misalnya, DCT DPR atau DPD Pemilu 2014. Nanti tampilannya akan seperti ini.
Tampilan DCT DPR RI 2014 dari semua provinsi di Indonesia
Tampilan yang ada di atas ini adalah daftar calon tetap anggota DPR RI di tiap provinsi di Indinesia. Kalau pengen tahu profil calon tetap anggota DPR RI 2014 tinggal klik aja tuh icon profil calon tetapnya, kelihatan kan ya? Kalau udah ketemu, nanti akan tampil seperti ini.


Naah, kelihatan kan ya? Ada 12 parpol yang tertera disana (dan ada 3 parpol lokal di Aceh). Untuk tahu profil mereka tinggal klik salah satu parpol di atas, dan profilnya nanti memiliki format pdf.

Eh iya, ada yang lupa nih. Temen-temen udah tercantum sebagai pemilih untuk pemilu 2014 belum? Nah, saya kasih petunjuk nih gimana cara temen-temen buat tahu temen-temen sudah tercantum atau belum sebagai pemilih. Pertama, di layar website KPU kan ada icon Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2014, temen-temen bisa klik itu. Nanti akan muncul tampilan seperti ini.


Naah, entar temen-temen tinggal pilih provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan kelurahan mana yang temen-temen tinggali (sesuai KTP yaa..), setelah itu masukkan NIK dan nama kita. Berhubung saya belum dapet e-KTP jadi saya cuma ketik nama saya aja. Dan taadaaaa, muncul deh nama saya, dan di TPS mana saya akan memilih. Otomatis saya udah terdaftar sebagai pemilih. Praktis kan? Cobain deh :D.

Naah, di sela-sela materi, juga ada doorprize. Biasanya pemateri akan memberikan pertanyaan, kemudian yang bisa jawab akan diberi bingkisan (bukan uang lho, tapi sesuatu yang bermanfaat :D), jadi kalau saya bisa menilai sih sosialisasinya cukup menarik (karena ada doorprizenya, haha..).

Untuk materi kedua disampaikan oleh Ketua MUI Jember yang membahas mengenai Pemilu dalam perspektif Agama. Kata beliau, kalau yang namanya golput itu haram hukumnya. Karena yaa ketika calon pemimpin itu sudah memenuhi syarat (salah satunya adalah amanah), maka bagi yang tidak memilih adalah haram (haditsnya saya lupa, langsung ditanyakan beliau aja ya biar nggak salah :3). Jadi, apa salahnya memilih? Nggak ada yang salah kok. Kita udah dikasih hak, dan bagaimana kita bisa memanfaatkan hak kita itu :).

Kemudian untuk materi ketiga, adalah mengenai Pemilu dalam perspektif Hukum. Sayang, saya nggak begitu paham apa yang beliau sampaikan, jadi nggak ngeh, maklum saya anak Teknik (apa hubungannya ceu? -_-"). Hehe, maap maap.

Terus kapan nih Pemilu 2014? Ya, sesuai dengan apa yang sudah disepakati (apa sih?), bahwa Pemilu 2014 akan dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014 (cateet tuuh..), pemilu ini dilaksanakan dalam rangka memilih calon legislatif DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD. Yap, tanggal 9 April ini merupakan pemilu legislatif. Kalau buat temen-temen yang tinggal di luar negeri (WNI lho yaa...), pelaksanaan pemilu dilaksanakan pada tanggal 30 Maret-6 April 2014.

Jadi tunggu apalagi, let's vote untuk Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau majuin bangsa kita sendiri. Jangan golput yaa :D.

Continue reading Yang Muda, Yang Memilih

11 Desember 2013

Gue AL4Y

Memang nggak bisa dipungkiri bahwa dalam alur kehidupan kita pasti mengalami masa-masa AL4Y (baca : alay). Hey, what the meaning of AL4Y? Iseng-iseng buka mbah Google, ternyata ada, malah Wikipedia pun mengulasnya -________-a. Ini kalimat yang saya kutip dari Mbah Wiki...
Alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia.[1] "Alay" merupakan singkatan dari "anak layangan"atau "anak lebay".[1] Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan.[2] Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan (lebay) dan selalu berusaha menarik perhatian.[1] Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup.[1] Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan. Dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan.[1] Di Filipina terdapat fenomena yang mirip, sering disebut sebagai Jejemon.[1]
Pertama kali saya tahu istilah alay ini waktu SMA, terutama masalah tulisan. Seringkali saya menemukan kalimat alay dengan menggabungkan huruf dan angka, cukup kreatif memang, tapi emang kelihatannya norak. Tapi kita nggak bisa memungkiri, meskipun menolak mentah-mentah bukan anak alay bahkan meledek anak-anak alay yang kelihatannya norak, sebenarnya kita sendiri pun pernah mengalaminya.

Ya, saya pun mengakui bahwa saya alay, sampe sekarang. Dulu waktu SMP, menulis dengan huruf besar dan kecil menjadi tren sendiri di sekolah saya, khususnya ketika mengetik SMS. Awalnya saya mengetik SMS dengan tulisan "wajar", ketika saya mendapat balasan dari seorang teman dengan tulisan "alay" menggabungkan tulisan besar dan kecil, saya pikir itu kelihatan menarik, akhirnya pun saya mengikuti gayanya. Sayang, saat itu masih belum ngetren istilah alay, tapi ternyata sejak SMP itulah saya sudah alay XD.

Karena ke-alay-an itu pun akhirnya menular di sosial media. Ada yang tahu Friendster? Pasti tahu kan. Salah satu sosial media yang booming mulai tahun 2004-an. Saya pun tahu Friendster dari teman sekolah saya. Memiliki sebuah akun Friendster menjadi sebuah kebanggaan buat saya, saat itu. Bisa bertemu dengan orang yang dikenal sampe orang yang nggak dikenal. Disanalah ke-alay-an saya semakin bertambah. Mulai dari membuat alamat email yang tampak keren, padahal alay. Email pertama saya yang saya buat untuk akun Friendster adalah dhykrenz@yahoo.com. Dimana di nama itu mengandung singkatan nama saya dan gebetan waktu SMP dulu (alay banget kan?). Yang lebih parahnya lagi saya namain akun saya dengan nama shikadheshynarakrenz. Karena ingin menggabungkan nama saya, gebetan, dan tokoh anime saya, hingga akhirnya terbentuk nama seperti itu. Paraaahhh..

Punya temen sebanyak-banyaknya pun jadi tren. Dulu saya balapan sama temen saya untuk dapat temen sebanyak mungkin. Mau itu temen sendiri bahkan orang lain saya add semua. Dari yang akunnya terlihat "normal" sampe yang bener-bener alay pun saya undang menjadi teman. Demi apa, demi tren (kalau diinget-inget lagi malu bener, tapi itu masa lalu, ahahaha XD).

Dari semua keparahan itu, ada satu yang paling parah. Di Friendster tuh kalo nggak salah, kita bisa ubah nama email kita. Biar kelihatan keren, saya ubah nama email saya menjadi kakikuk@ku.kaku. Sayangnya, setelah bertahun-tahun vakum dan saya buka akun saya di Friendster udah nggak ada, ahahaha..

Hingga pada tahun 2009, muncul situs sosial media baru yang amat sangat booming di dunia, Facebook. Karena nggak pengen dibilang kupdet (kalo dulu belum ada istilah ini), saya pun membuat akun di situs ini. Karena tidak ingin mengulang masa lalu, akhirnya saya membuat akun dengan nama aslinya, Destiany Prawidyasari. Tapi karena masa peralihan Friendster ke Facebook itu, sifat alay saya masih kebawa-bawa. Mulai buat status nggak penting (kalau dulu saya nganggepnya buat status adalah hal yang keren, parah), buat notes yang kalau saya baca sekarang tuh cuma bisa komen, "Des, elu alay." Emang bener, dulu saya sering onlen Facebook di HP, sehingga ketika menulis ya menggunakan bahasa HP, alias disingkat-singkat, daaan nggak banget. Saya ditulis dengan saiia, banget ditulis dengan bgd, gitu-gitulah.

Kalau sekarang sih udah nggak terlalu, meski emaang kelihatannya saya sering menulis kata-kata yang lebay (artinya sama nggak sih dengan alay?), tapi nggak lagi nulis dengan huruf kecil besar, atau huruf angka (inget umur soalnya, ahahahahaha XD). Dan saya anggap semua hal yang terlihat konyol di Friendster dan awal-awal membuat Facebook adalah masa lalu.

Sayangnya, masa lalu itu terkuak abis-abisan. Ya, saat ini menjadi sebuah fenomena atau tren ketika temen satu angkatan di perkuliahan menguak semua masa lalu kita, masa kejayaan alay kita, masa dimana kita merasa bahwa menulis status alay di Facebook itu adalah hal biasa (kalau sekarang malah nggak ngaku dia nulis seperti itu, malah menjudge kalau statusnya dibajak). Pertama kali saya lihat tuh mulai dari Senin malam kalo nggak salah, tanggal 9 Desember 2013. Awalnya ya biasa aja ngelihatnya, tapi lama-kelamaan menjadi amat sangat ekstrim. Semuanya dikuak. Nggak memandang siapa dia di masa sekarang, semuanya sama, dan memang semuanya pernah mengalami masa alay. Ini nih saya kasih contohnya.


Ini status yang beberapa temen-temen saya buat (nama dan gambar disamarkan supaya tidak terjadi popularitas yang mendadak :D). Nggak yang kelihatannya sangar, bawel, pendiem, ternyata semuanya ngalamin masa alay di masa lalunya (dan mungkin ada yang sampe sekarang). Daaan yang menjadi fenomena adalah komentar dari temen-temen yang bikin ngakak guling-guling nggak berhenti-berhenti sampe 3 hari ini XD.
 

Jadi, jangan heran kalau di timeline kalian penuh dengan status-status lawas dan komentar alaynya, bahkan sasarannya nggak cuma sama temen seangkatan, adek dan kakak angkatan pun jadi sasarannya, hahahaha...

Emang bener kata Raditya Dika, fase hidup manusia itu mulai dari bayi, balita, remaja, ALAY, baru dewasa. Jadi jangan ngerasa malu punya sikap alay dan ngeledekin orang yang alay, wong kita pernah alay juga kok :D.

Referensi :
  1. ^ a b c d e f Kasali, Rhenald. 2011. Cracking Zone. Jakarta: Gramedia. Hal. 71.
  2. ^ The Jakarta Post
Continue reading Gue AL4Y

2 Desember 2013

Sosok Kakek Pantang Menyerah


Kalau temen-temen melintasi Jalan Karimata di pagi hari pasti akan bertemu sosok seorang Kakek yang berjalan perlahan sambil memapah tongkat (duh, bahasa kedokterannya apaa gitu yaa, lupa..) menyusuri pinggiran jalan Karimata. Awalnya saya nggak terlalu memperhatikan kakek yang satu ini, saya anggap hanya pejalan kaki biasa. Tapi setelah berhari-hari melewati Jalan Karimata, saya selalu melihat kakek ini, terus berjalan tanpa berhenti. Kalau penasaran, standby deh di Jalan Karimata mulai pukul 7 pagi. Beliau berpenampilan menggunakan kopiah, baju koko, dan sarung, serta mengalungkan tas kecil. Sesekali saya memperhatikan beliau, tak tampak aura kelelahan di wajahnya, terus berjalan menyusuri Jalan Karimata, ke Jalan Jawa, terus nggak tahu kemana lagi, hehe..

Saya memang nggak begitu perhatian mengikuti beliau sampai kemana beliau berhenti berjalan. Awalnya saya berpikir beliau pengemis, tapi kalau saya lihat beliau nggak pernah meminta-minta dengan masyarakat sekitar, hanya terus berjalan dan berjalan. Barangkali ada yang lebih kenal dengan kakek ini?


Ada lagi, bercerita tentang kakek, saya sering melihat seorang kakek yang berjualan di pinggir jalan daerah Komplek Gunung Batu pada malam hari. Kalau saya lihat beliau itu menjual kelapa muda. Hanya dengan berpakaian tipis, beliau duduk di depan bakul jualannya menunggu ada pembeli yang menghampirinya. Sayang, setiap saya lewat nggak pernah ada pembeli (apa emang nggak pernah ketemu yaa..). 

Oya, saya juga pernah nih ketemu kakek-kakek juga, jualan juga, tapi saya bertemu beliau di daerah Jembatan Semanggi. Beliau menjual pisang kalau nggak salah (maklum malam hari :Dv). Ya sama, beliau duduk di depan bakulnya menunggu ada pembeli datang padanya. 

Rasanya kasiaaan banget kalau liat sosok mereka itu. Berjuang untuk menghidupi keluarganya, padahal usianya udah nggak muda lagi. Jadi inget program TV di salah satu stasiun TV swasta yang mengulas kehidupan orang-orang seperti mereka. Saya emang nggak secara langsung menanyakan tentang siapa dan kenapa mereka bisa ada dan bertahan disana. Tapi secara visual, saya menangkap bahwa mereka betul-betul berjuang dan berusaha untuk kehidupan mereka. Untuk sosok yang pertama memang bukan tukang jualan sih, tapi saya melihat semangat beliau untuk berjalan menuju tempat tujuannya. Meski dengan tongkat dan berjalan pelan, tapi beliau tidak pernah berhenti buat berjalan. Betapa orang-orang seperti mereka, di usia mereka yang seharusnya menikmati kehidupan, masih mampu untuk berjuang dan istiqomah menafkahi keluarga mereka. Seringkali nggak tega ngeliatnya, tapi mau bantu mereka sayanya nggak punya uang, jadi hanya bisa mendoakan yang terbaik buat mereka. Mudah-mudahan Alloh SWT. selalu melindungi orang-orang seperti mereka ya :’).
Continue reading Sosok Kakek Pantang Menyerah

Seratus Rupiah yang Tak Berharga

Hari itu saya dan pacar ada pelatihan di Lab Kampus, karena tidak sempat sarapan di rumah masing-masing akhirnya kami membeli sarapan di luar. Kami membeli lalapan ayam di pinggir Jalan Jawa. Sedang asyik-asyiknya kami mengobrol, seorang wanita paruh baya dengan penampilan lusuh datang menghampiri saya. Dengan tas yang dirangkulnya dan tangan mengadah, dia meminta “belas kasihan” dari saya. Sekilas saya memandang beliau, melihat penampilannya, ”Kasian juga,” gumam saya. Langsung saya ambil dompet di tas, dan melihat ada 2 keping uang logam 100 rupiah di dalamnya. Awalnya mau saya ambil dan berikan semuanya, tapi pacar saya berkata, ”Jangan, satu aja”. Saya pun menurut, saya berpikir bahwa barangkali nanti ada orang seperti ini lagi datang pada saya. Saya berikan 1 keping uang logam 100 rupiah pada ibu itu. Dan tahu apa respon beliau? Uang 100 rupiah itu dibuang begitu saja di depan muka saya, dan beliau berlalu begitu saja. 

Saya yang melihatnya hanya diam saja. Saya mengalihkan pandangan pada pacar saya dan berkata, ”Kok gitu ibunya?”. Dia (pacar saya) bertanya, ”Gimana perasaan teteh (panggilan dia ke saya) abis digituin sama ibunya?”, ”Biasa aja tuh”, jawab saya datar. ”Kalo a sih, tersinggung digituin sama ibunya. Masa udah dikasih langsung dibuang, udah untung dikasih, kok nggak bersyukur gitu.” jawab dia sambil terus memandang tukang jualannya (hehe..). Benar juga sih, kalau dipikir-pikir masih untung ya saya kasih uang, walaupun cuma sekeping uang logam bernilai 100 rupiah, ketimbang nggak sama sekali. Apa sebegitu nggak berharganya uang 100 rupiah saat ini? Apa saya harus ngasih uang seribu rupiah, sepuluh ribu, atau 100 ribu untuk mereka? Padahal kerjaan mereka cuma minta-minta, nggak ada usaha yang memeras keringat dan otak mereka (ya palingan keringetan gara-gara kepanasan, hehe..).


Sebenernya udah banyak kan himbauan dari lembaga sosial untuk tidak memberikan sembarangan uang kepada golongan mereka. Bukan karena kita jahat atau gimana, hanya tidak ingin membiasakan mereka untuk hidup hanya dari belas kasihan orang lain tanpa ada usaha sedikitpun. Meskipun begitu, masih banyak masyarakat kita yang memberikan uang untuk mereka dengan alasan kasihan atau shodaqoh. Saya nggak mempermasalahkan tentang himbauan pemerintah atau kepedulian masyarakat terhadap mereka, yang nggak saya habis pikir adalah kenapa ibu itu membuang pemberian dari orang lain di depan yang memberinya? Apa uang 100 rupiah nggak cukup untuk digunakan untuk belanja dan makan? Coba bayangin, kalau ibu itu dapet uang 100 rupiah dari 10 orang, ibu itu dapet uang 1000 rupiah, gimana kalau 100 orang? Dapet kan 1 porsi lalapan, sama es tehnya pula (lhooo, jadinya kok makanan...) 

Kemudian saya membayangkan betapa kerasnya usaha orang tua saya dalam mencari nafkah untuk kehidupan keluarga, demi sesuap nasi, dan itu berawal dari 100 rupiah. Saya pun membayangkan ketika itu ayah saya yang rajin menabung di celengan (bahasa Indonesianya apa ya?), dari uang logam 100 rupiah sampai uang kertas 1000 rupiah. Beliau berkata, ”Mudah-mudahan bisa buat beli mobil ya Kak?”. Jika mengingat kata-kata beliau, rasanya ingin menangis. Betapa uang 100 rupiah itu berharga di keluarga kami, meski hanya 100 rupiah tapi kami kumpulkan sedikit demi sedikit demi impian kami untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. 

Setelah kejadian itu, niatnya mau saya ambil kembali uang 100 rupiah itu. Pacar saya mengatakan jangan diambil. Sesuatu yang sudah diberi pamali kan untuk diambil lagi. Akhirnya saya tinggalkan uang 100 rupiah itu di jalan, dan berharap ada orang yang lebih membutuhkan uang 100 rupiah dibanding ibu paruh baya tadi.
Continue reading Seratus Rupiah yang Tak Berharga

25 September 2013

Bandung, Never Ending Story : Traffic Jam

Sebelumnya pengen ngucapin Selamat Hari Jadi Kota Bandung yang ke-203. Semoga Kota Bandung menjadi lebih baik dari tahun sebelum-sebelumnya, baik dari sisi kemacetan, wisata, pendidikan, maupun pemerintahannya. Amiin..

Berbicara tentang pemerintahan, sekarang ini Kota Bandung punya Walikota baru, yap namanya Pak Ridwan Kamil. Meski yaa saya memang nggak tahu profil beliau, karena waktu pemilihan saya lagi nggak berada di Bandung (jadinya golput deh, haha..). Tapi melihat sosmed dan berbagai berita di internet, banyak tanggapan positif terhadap orang nomor 1 di Kota Bandung ini. Salah satu yang tampak nyata dan jelas adalah program Angkot Day, yaitu "menggratiskan" tarif angkot jurusan Kebon Kalapa-Dago (bener nggak ini? :D), untuk siapapun yang naik angkot jurusan ini tidak usah membayar, enak banget kan? Selidik punya selidik, program ini bertujuan untuk mensurvey tingkat kemacetan di Bandung. Yaa, tahulaah Bandung macetnya kayak gimana, dan diharapkan dengan adanya program ini bisa menarik minat masyarakat untuk menggunakan jasa angkutan umum dibandingkan kendaraan pribadi.

Yap, macet. Orang Bandung mana yang nggak akan ngalamin kemacetan di setiap sudut kota? Dari Antapani, ke Kircon (Kiara Condong, red.), atau ke Jalan Jakarta, pastiiii banget bakal ngalamin masalah yang satu ini. Buat warga Antapani khususnya, karena kebetulan saya orang Antapani, kalo mau berangkat sekolah atau ke kampus atau ke kantor jangan pernah lebih dari jam 6 pagi. Kenapa? Karena setelah jam 6, dari Arcamanik mau ke Kircon ataupun mau ke pusat kota, jalanan akan dipenuhin oleh segala jenis kendaraan, mulai dari Angkot, bus Kobutri, mobil, dan motor, yang berjalan nggak karuan. Nggak karuan disini maksudnya tuh ada mobil dari arah Cicadas masuk ke Antapani dan dari Antapani mau ke Kircon atau pusat kota saling beradu dan nggak mau ngalah satu sama lain. Terkadang jalur yang seharusnya bisa untuk 2 arah, malah jadinya sulit dilewati karena dari arah Antapani misalnya, kendaraan sangat membludak untuk keluar dari daerah tersebut. Akibatnya, kendaraan yang mau memasuki Antapani (Jalan Purwakarta, red.) jadi sulit untuk dilewati.

Nah, itu salah satu contoh dari salah satu sudut kota Bandung yang tiap pagi akan pasti selalu mengalami kemacetan. Belum lagi di tempat lain, kayak di daerah Soekarno Hatta, Jalan Pahlawan, pokoknya banyak deh. Bisa dibilang Bandung hampir-hampir mirip sama Jakarta. Kenapa kok bisa gitu? Ya, dari sisi pendatang, banyak orang-orang dari luar Bandung yang pindah dan menetap disini. Penduduknya udah sangat padat. Lahan persawahan berubah fungsi menjadi komplek perumahan. Nggak heran kalo temen-temen jalan-jalan di Bandung akan banyak menemui komplek perumahan atau apartemen berjajar di sisi kota.

Oke, balik lagi nih berbicara soal kemacetan. Apa sih yang jadi penyebab Kota Bandung macet? Nggak pagi, siang, sore, malem, maceeeetttt dimana-mana. Sampe kadang saya males mau jalan-jalan, gara-gara macet yang satu ini. Belum lagi tiap Sabtu dan Minggu, terutama di Jalan Dago, Riau, dan Setiabudi yang notabene banyak memiliki Factory Outlet dipenuhi dengan kendaraan berplat B alias kendaraan dari Jakarta. Kalo udah kayak gitu, jalanan makin muaaceettt. Ya, penyebab macet tersebut salah satunya adalah pengguna kendaraan pribadi yang tidak sesuai dengan ruas jalan yang tersedia. Kadang nih 1 mobil cuma diisi 1 orang. Walaupun di Jakarta udah diberlakukan 3 in 1, tapi sepertinya masih belum dapat mengatasi masalah kemacetan disana.


Mungkin salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengajak masyarakat untuk menggunakan jasa angkutan umum. Yaa, dengan program yang kemarin dilaksanakan oleh pemerintah Kota Bandung setidaknya menjadi cara yang cukup jitu untuk menyelesaikan masalah kemacetan yang belum kunjung usai. Tapi nggak mungkin juga angkotnya gratis tiap hari ya? hahaha..

Tentunya fasilitas angkutan umumnya pun harus ditingkatkan, terutama masalah keamanan dan kenyamanannya. Kan banyak nih berita-berita yang nggak ngenakin jika kita menggunakan angkutan umum. Nah, dengan ditingkatkannya keamanan dan kenyamanan untuk penumpang, setidaknya masyarakat tidak akan takut untuk menggunakan jasa ini, dan ini menjadi tugas pemerintah untuk mengajak masyarakat beralih menggunakan angkutan umum dibandingkan kendaraan pribadi, seperti yang sudah dilakukan Pak Jokowi itu lhoo :D.

Yaa, semoga dengan pemerintahan Kota Bandung yang baru ini, masalah kemacetan bisa dikurangi, bahkan dibabat abis sampe tuntas tas biar kalo jalan-jalan di Bandung bisa lancar jaya tentunya aman juga. Sekali lagi, dirgahayu Kota Bandung!
Continue reading Bandung, Never Ending Story : Traffic Jam

30 Januari 2012

Keripik Tahu Ala Gue

Assalamu 'alaikum..

Huidiiih, kok sekarang jadi bahas keripik-keripikan gini ya? Sampai badan juga makin kayak keripik ...

Oke, posting kali ini saya mau cerita tentang kejadian siang tadi. Ceritanya saya laper, lapeeeerrrr banget, sayangnya lauk makanan di meja makan nyaris habis alias dikit lagi. Buka kulkas, cuma ada tahu, tauge, sama telur yang ada. Dipikir-pikir, pikir-pikir, daaaaaaaaan dipikir, "Masak apa ya?", tapi karena rasa lapar yang tak tertahankan, alhasil saya punya ide buat keripik tahu. Kenapa saya buat keripik tahu? Karena buatnya paling gampang dari semua bahan yang ada. Buat telur goreng udah ada (sayangnya tinggal dikit), tumis tahu tauge kelamaan, ya udah cari aja yang praktis banget buatnya, ya keripik tahu itu.
Cara buat keripik tahunya gampang kok (sekarang gaya-gaya ala chef), cukup siapin tahunya, tahu yang saya pake ini tahu Bandung, bedanya sama tahu-tahu lain tuh tahu Bandung pokoknya ennyaak dah, udah ada rasanya gitu (disini saya nggak akan bahas cara buat tahu Bandung dulu yaa..), oke udah siap? Nah, siapin telenan, atau bahasa bakunya apa yaa? Ya pokoknya telenan dah, orang dapur pasti tahu alat yang satu ini kan? Oke, letakkan tahu di atas telenan, kemudian diiris tipis dengan pisau. Jangan terlalu tipis tapi jangan terlalu tebal juga, yang sedang-sedang sajaaaa (lah, malah nyanyi...). Sudah diiris tipis tahunya? Kemudian panaskan penggorengan alias wajan dengan minyak secukupnya, nggak usah banyak-banyak juga, kan ceritanya buat makan sendiri (buat saya yang kelaperan lebih tepatnya). Kalau minyaknya udah panas, masukin irisan tahu itu satu persatu-satu. Goreng dengan api yang sedang aja, kalau kebesaran tahunya takut gosong (untuk kasus saya yang kelaperan, apinya dibesarin biar cepet mateng). Udah mulai kecoklatan dan kering kan? Angkat tahunya (kemanaaa?) dari penggorengan itu dan tiriskan (udah kayak chef belum ini?), dan tadaaaaaaaa.... keripik tahu ala Chef Desty siap dinikmati...


Keripik tahu ini bisa jadi lauk makan sama nasi ataupun camilan di kala galau (ehhh...), makin sip kalau ditambah sama sambal, TOP dah (muji diri sendiri ). Temen-temen bisa coba buat nih (kalau yang belum pernah buat).

Akhirnya, makan siang saya pun jadi dengan nasi+keripik tahu+sambal, kalo kata Pak Bondan, maknyuusss :9.

Sekian posting saya kali ini.

Wassalam.
Continue reading Keripik Tahu Ala Gue

Keripik Kentang=Keripik Gadung??

Assalamu 'alaikum ..

Huaahhh, bulan Januari ini banyak juga ya posting saya, maklum lagi libur sih jadi ya makin giat nge-postingnya (alasan sebenarnya : nggak punya uang sehingga harus mendekam di rumah, hoaahhhemmm). Oke, lupain masalah penyakit "kanker" (kantong kering) saya, rasanya seperti mimpi buruk buat saya ...

Oke, kita fokus ke cerita ya, ini bisa dibilang cerita memalukan dan paling garing buat saya (terus, ngapain diposting segala ).

Menurut saya, memperbanyak pembendaraan kata penting banget, terutama digunakan pada saat temen-temen menulis artikel baik ilmiah maupun non ilmiah, karya sastra modern seperti novel, cerpen, dan lainnya, dan terutama saat mengobrol dengan orang lain !
Memperbanyak pembendaraan kata atau bahasa Inggris dan populernya vocabulary bisa didapat dari berbagai hal, misalnya membaca buku, browsing, berbicara dengan orang-orang penting, menonton tv (lebih khususnya menonton berita), dan membaca kamus.

Mengapa saya menekankan mengobrol dengan orang lain ?

Kita flashback dulu ya...

Gara-gara hobi saya yang MALAS membaca buku terutama literatur buat kuliah, rajin ke perpus, rajin pinjem buku, rajin memperpanjang waktu minjem tapi nyatanya bukunya cuma saya baca sehari sebelum ujian (contoh nggak baik nih). Akibatnya ya itu, vocab (singkatan dari vocabulary) saya kurang banget, hadeuuuuhhh ...
Keripik Gadung Asli Cap Sekawan
Menyambung dari cerita itu, jadi gini nih, kemarin itu saya makan oleh-oleh dari adek saya yang baru pulang dari Jogja (deuh, gayaa...). Makanan itu namanya keripik gadung, adek saya beli waktu mampir ke Salatiga, karena penasaran segera saya buka bungkus keripik itu (waktunya ngemil).
Sekali gigit, terus kunyah, kriuk, kriuk, kriuk... Saya mikir, "Kayaknya pernah kenal rasanya". Gigit lagi, kunyah lagi, makin dirasa makin penasaran. Akhirnya saya tanya ke adek saya,
"Ndut (panggilan saya ke adek), ini keripiknya kok rasanya kayak keripik kentang ya?"
"Ya iyalah kak, keripik gadung itu ya keripik kentang, gadung itu sama aja kayak kentang kak", jawab adek saya santai.
Diam sesaat ...
"Pantes, rasanya kok kayak keripik kentang ya?" kata saya sembari mengkriuk-kriukan keripiknya (bahasa dari mana mengkriuk-kriukan), bicara seperti ini agar nggak kelihatan malu sama adek sendiri. Malu banget rasanya, saya kok gitu aja nggak tahu ya? Kentang itu ya gadung, gadung itu ya kentang. Jadi ya pastilah keripik gadung itu keripik kentang juga. Inilah akibat jarang-jarang mencari informasi dari buku, televisi, internet, akhirnya kan masalah sepele kayak gadung=kentang aja nggak tahu, hadeeeeeuuuuhhh...

Hikmah yang bisa saya ambil dari kejadian ini adalah banyak-banyak cari informasi baik dari buku, internet, tv, radio sekalipun itu nggak penting !

Sekian posting saya kali ini.

Wassalam.
Continue reading Keripik Kentang=Keripik Gadung??

18 Januari 2012

Hey Galauers, Cekidot !

Hai, haaai, ketemu lagi sama saya dalam acaraaaaa ...

kriikk..

1 jam kemudian..
krikkk.kriiikk..

2 jam kemudian..
krikk... kriikk.. kriiikkk..

3 jam kemudian..
kriikk..krikk..kriiikkk...kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkk..

Garing banget ya, tapi ceritanya saya emang bingung ngasih salam pembukanya gimana, maklum saya lagi galau banget hari ini (jangan tanya kenapa saya lagi galau)...

Ngomong-ngomong soal galau, apa sih sebenernya arti dari galau? Jujur aja ya, pertama kali denger kata galau, saya nggak ngerti sama sekali apa artinya itu. Sering banget liat temen-temen pada apdet status di fesbuk ato nge-twit di twiter, "galau..", "gue lagi galau", "galau gara2 dia..", daaaan ratusan status juga tweet yang menggunakan kata galau di dalamnya. Saya sering nanya sama diri sendiri, "apa sih itu galau?", liat temen-temen yang madesu (masa depan suram), lesu, lemah, lunglai, halaahh.. pokoknya nggak ada semangat gitu lah, dan mereka akan berkata "aku lagi galau". Arrggghh, what is the meaning of galau?

Hingga suatu ketika, sang kodok eh eh sang kodok (lho?), kan kan mulai ngaco nih, galau membawa sengsara gini sih . Oke, saya lanjut nih, suatu ketika saya mengalami suatu kondisi dimana pikiran saya kacau, emosi nggak karuan , males ngapa-ngapain, pokoknya nggak ada semangat banget , dan akhirnya saya menyadari kalau saya sedang GALAU, saya ulangi, saya lagi GALAU !! Kalau udah kondisi gini tuh bisa bawaannya kalau nggak nafsu makan malah banyak makan, tergantung temen-temen sukanya yang mana, hehe .. kalau saya sih kadang nggak nafsu makan, kadang jadi banyak makan, tergantung dari menu makanan yang ada di meja makan (lhoo? o.Oa). Tapi, bener nggak sih galau kayak gitu? naahh, biar nambah referensi saya cariin nih artikel lewat mbah gugel yang ngebahas tentang galau. Jadi, apa itu galau ?

Menurut kamus Bahasa Indonesia galau adalah beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Mungkin kaitannya dengan galau yang dimaksud adalah kacau tidak karuan, nggak mungkin juga gitu ya galau artinya beramai-ramai, emangnya pawai ramai-ramai? =___="

Udah pada ngerti arti dari GALAU?? Belum? (saya juga)

Nihh, sinonim atau persamaan kata dari GALAU, biar temen-temen rada ngarti GALAU itu apa..

Naaah, dari gambar itu udah "kliatan" jelas kan galau itu apa? Masih belum? Nyerah deeh.

Sebenernya apa sih penyebab galau? Nah, kalau ditanya ini banyak banget deh penyebabnya. Coba deh kalo temen-temen liat statusnya temen-temennya temen-temen (bentar-bentar, kok saya jadi pusing dengan kata temen ya?) di fesbuk dan tuiter.

Biasanya status atau tweetnya semacam gini :
"Dia nggak nelpon aku siang ini, galau deh.."
"Dia nggak ngertiin akuuu, galau..."
"Coba aja sedikiiiiit kamu ngertiin aku.."
Biasanya galau semacam ini ada hubungannya sama pacar kita, atau gini :
"Sms nggak pernaaah, telepon nggaak pernaaaaah"
Kalau kayak gini, berarti galau gara-gara pacar atau sobat kita nggak punya pulsa, hahaha .. (korban iklan). Bisa juga gini :
"duuh, ujian nggak ada harapan.."
"arrrgghh, IP gueeeeeeeee..."
Kalau gini sih, biasanya galau gara-gara ujian atau nilai (contoh, gue).
Hmmm... apalagi yaa, pokoknya banyak banget deh penyebab galau, apalagi hal itu yang bikin pikiran kita makin kacau, lama-lama makin stres, dan makin lama-kelamaan jadii..... (pasti taulah).

Terus, biar nggak galau, gimana donk? Mmmm.. kalau saya sih nyaranin gini :
  1. Mendekatkan diri kepada Allah Swt., ini penting banget lho.. bagaimanapun juga Allah Swt. adalah segala-galanya buat kita, tempat kita buat mengadu, memohon, berkeluhkesah, bersyukur, daaaaaan apapun yang ingin kita bagi dan ceritakan. Jadi, saat galau jangan mendekatkan diri dengan fesbuk, tuiter, atau yeem (berhubung nggak pake sponsor, jadi nama situsnya saya plesetin aja), kita mau pamer kegalauan kita heh? (saya juga gitu sih, heu..), kita galau tuh bukan untuk dipamerin sob, bukan solusi itu namanya, karena sebaik-baik pemberi solusi adalah Allah Swt.
  2. Selalu berpikir positif. Biasanya orang lagi galau itu kebanyakan berpikir negatif daripada positif. Banyak berpikir, "seandainya..", "kalau aja...", ya gitu-gitulah. Coba aja berpikirnya gini, "Saya bisa..", "Pasti saya bisa..". Semacam penyemangat agar kita selalu berpikir positif.
  3. Buang masa lalu yang membuatmu galau. Maksudnya, jangan berlarut-larut dengan kegalauan dan penyesalan di masa lalu. Move on donk, bumi aja selalu berputar, tapi kenapa kita malah lari di tempat? Kita juga mesti bergerak, mesti berubah. Hidup nggak selamanya datar, hidup nggak mungkin hanya dalam alur yang sama.
  4. Belajarlah dari orang sukses. Orang sukses adalah orang yang berani gagal. Mereka adalah orang yang berani ambil resiko. Sukses itu nggak instan, pasti butuh proses, dan dalam proses itu pastilah mereka akan mengalami kegagalan, tapi mereka segera bangkit untuk terus maju. Kegalauan cuma menghambat kita untuk bergerak ke depan.
  5. Jangan jadi orang tertutup. Kegalauan membuat kita jadi ingin terus sendiri. Menyepi, menyendiri. Banyak cerita sama temen kita, siapa tau temen bisa kasih solusi (tapi solusi terbaik hanya milik Allah :D).
Jadi, SAY NO TO GALAU ANYMORE! Banyak senyum, karena senyum itu shadaqah (lho?). Yaa, banyak senyum, banyak memberikan energi positif buat kita dan buat orang di sekitar kita..

Yuu aahh, segini dulu aja postingan saya tentang GALAU, dadahh galau, mulai besok nggak ada lagi kata galau :D.

Wassalam.

Sumber : Kaskus, Arti Kata
Continue reading Hey Galauers, Cekidot !