Rabu, 11 Desember 2013

Gue AL4Y

Memang nggak bisa dipungkiri bahwa dalam alur kehidupan kita pasti mengalami masa-masa AL4Y (baca : alay). Hey, what the meaning of AL4Y? Iseng-iseng buka mbah Google, ternyata ada, malah Wikipedia pun mengulasnya -________-a. Ini kalimat yang saya kutip dari Mbah Wiki...
Alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia.[1] "Alay" merupakan singkatan dari "anak layangan"atau "anak lebay".[1] Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan.[2] Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan (lebay) dan selalu berusaha menarik perhatian.[1] Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup.[1] Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan. Dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan.[1] Di Filipina terdapat fenomena yang mirip, sering disebut sebagai Jejemon.[1]
Pertama kali saya tahu istilah alay ini waktu SMA, terutama masalah tulisan. Seringkali saya menemukan kalimat alay dengan menggabungkan huruf dan angka, cukup kreatif memang, tapi emang kelihatannya norak. Tapi kita nggak bisa memungkiri, meskipun menolak mentah-mentah bukan anak alay bahkan meledek anak-anak alay yang kelihatannya norak, sebenarnya kita sendiri pun pernah mengalaminya.

Ya, saya pun mengakui bahwa saya alay, sampe sekarang. Dulu waktu SMP, menulis dengan huruf besar dan kecil menjadi tren sendiri di sekolah saya, khususnya ketika mengetik SMS. Awalnya saya mengetik SMS dengan tulisan "wajar", ketika saya mendapat balasan dari seorang teman dengan tulisan "alay" menggabungkan tulisan besar dan kecil, saya pikir itu kelihatan menarik, akhirnya pun saya mengikuti gayanya. Sayang, saat itu masih belum ngetren istilah alay, tapi ternyata sejak SMP itulah saya sudah alay XD.

Karena ke-alay-an itu pun akhirnya menular di sosial media. Ada yang tahu Friendster? Pasti tahu kan. Salah satu sosial media yang booming mulai tahun 2004-an. Saya pun tahu Friendster dari teman sekolah saya. Memiliki sebuah akun Friendster menjadi sebuah kebanggaan buat saya, saat itu. Bisa bertemu dengan orang yang dikenal sampe orang yang nggak dikenal. Disanalah ke-alay-an saya semakin bertambah. Mulai dari membuat alamat email yang tampak keren, padahal alay. Email pertama saya yang saya buat untuk akun Friendster adalah dhykrenz@yahoo.com. Dimana di nama itu mengandung singkatan nama saya dan gebetan waktu SMP dulu (alay banget kan?). Yang lebih parahnya lagi saya namain akun saya dengan nama shikadheshynarakrenz. Karena ingin menggabungkan nama saya, gebetan, dan tokoh anime saya, hingga akhirnya terbentuk nama seperti itu. Paraaahhh..

Punya temen sebanyak-banyaknya pun jadi tren. Dulu saya balapan sama temen saya untuk dapat temen sebanyak mungkin. Mau itu temen sendiri bahkan orang lain saya add semua. Dari yang akunnya terlihat "normal" sampe yang bener-bener alay pun saya undang menjadi teman. Demi apa, demi tren (kalau diinget-inget lagi malu bener, tapi itu masa lalu, ahahaha XD).

Dari semua keparahan itu, ada satu yang paling parah. Di Friendster tuh kalo nggak salah, kita bisa ubah nama email kita. Biar kelihatan keren, saya ubah nama email saya menjadi kakikuk@ku.kaku. Sayangnya, setelah bertahun-tahun vakum dan saya buka akun saya di Friendster udah nggak ada, ahahaha..

Hingga pada tahun 2009, muncul situs sosial media baru yang amat sangat booming di dunia, Facebook. Karena nggak pengen dibilang kupdet (kalo dulu belum ada istilah ini), saya pun membuat akun di situs ini. Karena tidak ingin mengulang masa lalu, akhirnya saya membuat akun dengan nama aslinya, Destiany Prawidyasari. Tapi karena masa peralihan Friendster ke Facebook itu, sifat alay saya masih kebawa-bawa. Mulai buat status nggak penting (kalau dulu saya nganggepnya buat status adalah hal yang keren, parah), buat notes yang kalau saya baca sekarang tuh cuma bisa komen, "Des, elu alay." Emang bener, dulu saya sering onlen Facebook di HP, sehingga ketika menulis ya menggunakan bahasa HP, alias disingkat-singkat, daaan nggak banget. Saya ditulis dengan saiia, banget ditulis dengan bgd, gitu-gitulah.

Kalau sekarang sih udah nggak terlalu, meski emaang kelihatannya saya sering menulis kata-kata yang lebay (artinya sama nggak sih dengan alay?), tapi nggak lagi nulis dengan huruf kecil besar, atau huruf angka (inget umur soalnya, ahahahahaha XD). Dan saya anggap semua hal yang terlihat konyol di Friendster dan awal-awal membuat Facebook adalah masa lalu.

Sayangnya, masa lalu itu terkuak abis-abisan. Ya, saat ini menjadi sebuah fenomena atau tren ketika temen satu angkatan di perkuliahan menguak semua masa lalu kita, masa kejayaan alay kita, masa dimana kita merasa bahwa menulis status alay di Facebook itu adalah hal biasa (kalau sekarang malah nggak ngaku dia nulis seperti itu, malah menjudge kalau statusnya dibajak). Pertama kali saya lihat tuh mulai dari Senin malam kalo nggak salah, tanggal 9 Desember 2013. Awalnya ya biasa aja ngelihatnya, tapi lama-kelamaan menjadi amat sangat ekstrim. Semuanya dikuak. Nggak memandang siapa dia di masa sekarang, semuanya sama, dan memang semuanya pernah mengalami masa alay. Ini nih saya kasih contohnya.


Ini status yang beberapa temen-temen saya buat (nama dan gambar disamarkan supaya tidak terjadi popularitas yang mendadak :D). Nggak yang kelihatannya sangar, bawel, pendiem, ternyata semuanya ngalamin masa alay di masa lalunya (dan mungkin ada yang sampe sekarang). Daaan yang menjadi fenomena adalah komentar dari temen-temen yang bikin ngakak guling-guling nggak berhenti-berhenti sampe 3 hari ini XD.
 

Jadi, jangan heran kalau di timeline kalian penuh dengan status-status lawas dan komentar alaynya, bahkan sasarannya nggak cuma sama temen seangkatan, adek dan kakak angkatan pun jadi sasarannya, hahahaha...

Emang bener kata Raditya Dika, fase hidup manusia itu mulai dari bayi, balita, remaja, ALAY, baru dewasa. Jadi jangan ngerasa malu punya sikap alay dan ngeledekin orang yang alay, wong kita pernah alay juga kok :D.

Referensi :
  1. ^ a b c d e f Kasali, Rhenald. 2011. Cracking Zone. Jakarta: Gramedia. Hal. 71.
  2. ^ The Jakarta Post

0 komentar:

Posting Komentar