Senin, 10 Februari 2014

Bandung #18 : VRADA Forever



Saya nggak pernah bosen untuk bercerita tentang kalian, VRADA. Setelah saya menulis Apa Kabar Vrada? karena keinginan saya ingin bertemu kalian dan VRADA Tanpa V pada pertemuan pertama kita di BIP kala itu, kini bisa bertemu berlima lagi dalam pertemuan kedua kita. Rasanya rindu yang tertahan dalam waktu 3-4 tahun ini bisa terbayar dengan melihat wajah dan bernostalgila dengan kalian. Meski saya udah bertemu dengan Andhini, Dhika, dan Rajiv, tapi dengan pertemuan kedua ini kita nggak pernah kehabisa cerita. Cerita masa lalu (lagi), kebiasaan-kebiasaan yang sering kita lakukan dan masih terbawa hingga sekarang, kuliah, bahkan soal masa depan.

Saya sungguh terharu dengan pertemuan kedua ini. Kenapa? Di kala kesibukan kalian yang menuntut untuk tetap dilakukan, tetapi masih tetap bisa menyempatkan waktu untuk bertemu. Nessa yang besoknya masih ujian dan bimbingan, Dhika yang masih ada latihan PSM, Andhini dengan kegiatan mengajarnya di sekolah, dan Rajiv ... yang rumahnya paling jauh, berusaha untuk bisa bertemu untuk satu hari ini. Saya terharu :'(.

Awalnya kita janjian jam 10 pagi, cuma karena Dhika yang harus perwalian di Jatinangor dan Nessa yang masih ada bimbingan di kampus, membuat jadwal pertemuan terus diundur, baru habis maghrib bisanya. Saya berpikir, apa jadi ya acaranya? Tapi semua teman-teman menyanggupi meski baru malam hari bertemu, demi bisa berkumpul berlima lagi.

Kita janjian di kampus Dhika, Universitas Padjajaran di Dipati Ukur. Tempat disana dipilih karena melihat Dhika yang masih sibuk dengan kegiatannya, karena nggak mau membuatnya kerepotan kesana kemari. Saya berangkat dari rumah dengan menggunakan angkutan umum, untung tidak macet. Padahal jam segitu lagi padet-padetnya sama yang pulang kerja, tapi saat keberangkatanku lumayan ramai lancar. Baru setengah perjalanan, Nessa mengajak saya untuk bareng dengan mobilnya. Agak nanggung sih, soalnya saat diajak itu saya sudah ganti angkot, tapi saya langsung turun di depan taman di Jalan Riau yang dulunya pom bensin. Aahh, ongkosnya kok mahal sekali, padahal jaraknya dekat :(

Setibanya di depan kampus Unpad, kita mencoba menghubungi Dhika. Pertamanya susah banget, ditelpon, di-bbm, di-wasap pun nggak direspon. "Kemana ni anak?" pikirku. Lima belas menit kemudian, baru Dhika nongol eh muncul di hadapan kita. Dhika, Dhika, kemana aja kamuu -_-". Menunggu hampir sejam, Andhini sampai di kampus, meski kita harus samperin dia dulu karena dia turun dari angkot jauh dari tempat kita menunggu. Setelah menunaikan sholat Maghrib, kita lanjutkan perjalanan. Kemana? Masih belum tahu, yang penting jalan sambil menunggu Rajiv yang masih dalam perjalanan, yang katanya naik travel ke Bandungnya. Buset, Rancaekek - Bandung pake travel? -___-a.

Kami menunggu Rajiv di Baltos alias Balubur Town Square sambil berbincang-bincang satu sama lain. Saya kangen teriakannya Nessa, Aaaaa.. Desty..., hehe. Cerita tentang Andhini yang kemarin ke Jepang, tentang kuliah dan kehidupan saya di Jember, banyak deh pokoknya. Setelah sejam menunggu, barulah Rajiv datang. Sudah berkumpul semua nih ceritanya, tapi masih belum tahu mau kemana. Kita emang kebiasaan sih, kumpul ya kumpul, tapi kadang nggak nentuin mau ngapain dan dimana, akhirnya setelah ngumpul butuh waktu setengah jam buat diskusi tempat (doang).
 

Kita memutuskan untuk makan-makan di food court Istana Plaza. Selain karena kita amat sangat kelaparan terutama Dhika dan ini merupakan hasil rekomendasi Nessa yang katanya banyak macam makanannya disana. Setelah sampai disana, saya cuma bisa menelan ludah ketika melihat stand makanan disana. Kenapa? Karena harganya nguras kantong, bukan, nguras uang di kantong. Saya mencari tempat dimana menjual makanan yang murah, walaupun nggak ada yang semurah di Jember. Kalo di Jember harga 5 ribu udah dapet nasi pecel, di Bandung cuma dapet nasi (doang).
 

Waktu kita banyak dihabiskan buat ngobrol-ngobrol sih, emang dari dulu kita senengnya kayak gitu. Ngobrol, ketawa, ngobrol lagi, ketawa lagi, sakit perut (yang terakhir bercanda :p). Juga karena kita orangnya narsis, apalagi ada yang jadi Master of Selfie, Rajiv. Kita banyak berfoto disana. Nggak peduli dilihat banyak orang, ngelihat kita aneh karena rame sendiri, nggak peduli yang penting foto, hehe.

Saya bakal kangen momen-momen kayak gini. Di saat kita ngumpul bareng, ketawa bareng, makan bareng, semuanya bareng-bareng. Memang kita udah sibuk masing-masing, yang udah kerja lah, mau skripsi, mau ke luar negeri, tapi saya bersyukur kalian nggak melupakan persahabatan yang kita jaga selama 7 tahun ini. Terima kasih VRADA atas jalinan persahabatan yang luar biasa. "Entah kenapa meskipun kalo katemu nggak pernah banyak curhat, tapi Andhini bersyukur kita bisa temenan sampai sekarang". Duuh, terenyuh hati saya mendengar perkataanmu ini An :'). Kita berharap saat wisuda, kita bisa kumpul lagi. Emang sih nggak mungkin bareng, tapi saya harap saat wisuda saya kalian ada ya guys.

I love you VRADA :).

0 komentar:

Posting Komentar