Rabu, 09 April 2014

Suka Duka Pindah Nyoblos


Hari ini, tanggal 9 April 2014 merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh warga Indonesia, karena pada hari inilah kita sebagai rakyat Indonesia dapat mempergunakan hak pilih dan hak suara untuk memilih para calon legislatif (DPR, DPRD, dan DPD) untuk 5 tahun ke depan. Mungkin ada yang protes, "saya nggak nunggu-nunggu kok", okee bisa dibilang ini amat sangat ditunggu oleh para calon legislatif dari berbagai parpol apakah suara rakyat Indonesia dapat membuat mereka terpilih untuk menduduki kursi empuk di DPR/DPRD ataauu ditunggu juga oleh para pemilih pemula yang pengen eksis di TPS karena punya hak pilih dan suara, dan kegembiraan ini pun disambut dengan update status di Facebook, Twitter, Path, BBM, kemudian mengunggah fotonya (biasanya kelingking yang abis kena tinta pemilu) lewat Instagram.  

Lu kate TPS tempat nongkrong ya, hahaha...

Tapi nggak apa-apalah, suka cita mereka ini nggak boleh kita hina dina angkara murka, toh semangat mereka untuk memilih patut diacungi jempol, walau abis milih, langsung foto selfie, haha sudahlah, saya juga termasuk yang gitu kok XD

Kegiatan mainstream abis nyoblos XD
Namun sayang disayang, pada saat pesta demokrasi ini saya nggak bisa milih di kota kelahiran saya. Ya mau gimana pulang, wong besoknya udah masuk kuliah lagi, perjalanan Jember-Bandung memakan waktu seharian lebih, belum istirahat, belum perjalanan baliknya lagi, haaahhh capeeekkk. Tapi untungnya nih, KPU "sedikit" mempermudah saya agar saya bisa milih di Jember, tempat saya menimba ilmu. Cukup dengan mendaftarkan diri ke KPU (melampirkan KTP), setelah itu dapet form A5 sebagai pengganti surat undangan untuk memilih (C6). Tapi disini saya bukan pemilih tetap, tapi sebagai pemilih tambahan karena harus pindah TPS. Dan saya pun nggak perlu ke KPU-nya, karena ada Komunitas Mahasiswa Anti Golput (KOMTI) yang mengkoordinir mahasiswa luar Jember yang akan menggunakan hak pilihnya di Jember.

Okee, lanjut nih. Jadi ceritanya saya sudah bersiap dari pagi untuk ke TPS. Karena sebagai pemilih tambahan, maka kita harus mendaftarkan diri ke TPS sebagai DPT tambahan. Awalnya saya mengira saya boleh menyoblos dimana saja, yang dekat dengan tempat tinggal saya di Jember. Nyatanya malah harus keliling mencari dimana TPS saya berada, dan itu cukup jauh dari rumah saya. Oya, saya pergi bersama 2 orang lainnya, teman dan pacar saya. Dan anehnya meski kami daftar ke koordinator KOMIT bersama, tempat menyoblos kami malah berbeda.

Kami mensurvei TPS kami masing-masing, saya dapat di TPS 2, pacar saya TPS 5, dan teman saya TPS 3. Saya pikir tempatnya saling berdekatan, nggak tahunya lokasinya dari ujung ke ujung di komplek perumahan. Sesampainya disana, kami menjelaskan bahwa kami pemilih tambahan yang akan memilih disini. Saya kira form A5 itu akan disimpan dan didata dulu oleh panitia, yang kemudian nantinya kami kembali lagi pukul 12 siang untuk memilih. Tapi beberapa TPS yang kami datangi malah membalikkan form kami, dan menyuruh kami untuk datang siang nanti. Haah, tahu gitu sih mending dateng siangnya aja sekalian -___-".

Sekitar pukul 12 siang, saya dan pacar kembali ke TPS, di TPS pacar saya masih penuh dengan antrian warga yang akan menyoblos, ketika sudah mendatangi panitia kami malah disuruh datang lagi nanti karena TPS masih ramai, langsung saja kami ke TPS lain, tepatnya TPS 2, tempat saya memilih. Disana cukup sepi, saya menunggu sekitar 15 menit dan kemudian dipanggil panitia untuk melaksanakan pencoblosan. Pilihan saya? Rahasia. Hanya Allah dan saya yang tahu, hehe.. yang jelas, saya memilih pemimpin yang nantinya sanggup memimpin demi masa depan Negara agar menjadi lebih baik.

Sayangnya ketika kembali ke TPS 5, antrian belum saja berkurang. Bahkan saat mendatangi ke panitia pun, kami malah diminta ke TPS lain dengan alasan TPS 5 penuh. Saat datang kesana, kami mendapatkan jawaban tidak menyenangkan dari panitianya. Tahu apa? Kami harus kembali ke TPS 5 karena itu yang tertera di form. Jyaah, balik sajalah ke rumah, itu yang dilakukan pacar saya, kami tak kembali ke TPS.

Bukan maksud untuk tidak menggunakan hak pilih, hanya saya merasa pelayanan yang diberikan kurang memuaskan, dalam artian seperti "orang lain", padahal sama-sama Warga Negara Indonesia, maka pantaslah punya hak yang sama. Mendahulukan warga disini, oke, tapi tolonglah dihargai juga. KPU sudah mempermudah para pendatang untuk dapat menyoblos di daerah tempatnya sekarang tinggal tanpa harus pulang kampung (karena waktunya tidak memungkinkan untuk pulang), tapi apa pelayanannya jadi seperti ini?

Bagi saya, memiliki hak pilih adalah sebuah kebanggaan. Selain karena jari kelingkingnya bisa kena tinta ungu (ini apaaa -___-), saya merasa seneng aja bisa ikut andil dalam memilih untuk masa depan bangsa. Terlepas dari carut marutnya konspirasi politik yang sering saya lihat di tivi ataupun korupsi dimana-mana, saya masih memiliki keyakinan bahwa masih ada calon pemimpin yang bener-bener bisa memimpin dan menjaga amanah rakyat, sehingga untuk itulah saya berhak untuk memilih calon pemimpin itu, walau tidak tahu itu siapa. Tapi saya yakin bahwa Allah-lah yang menentukan segalanya, dan pasti adalah yang terbaik. Jadi apapun pilihannya, jika Allah mengizinkan, maka pilihan terbaik itulah yang akan terpilih.

Saya berharap di pemilu 2019 bisa lebih baik dari sebelumnya, terutama sosialisasi dan pelayanan terhadap pemilih pendatang (tambahan). Bagaimanapun juga, hak suara para pemilih pendatang juga amat berarti bagi kaliaaan, para calon pemimpin bangsa. Bagaimana mau mengurangi angka Golput kalau pelayanannya seperti ini? Saya nggak pengen jadi warga Golput kok, dulu terpaksa saja harus jadi Golput dalam Pilkada Walikota Bandung karena kondisinya saya sedang kuliah dan bener-bener nggak bisa meninggalkan Jember, dan nggak ada form A5 untuk memilih Walikota Bandung disini.

Saya cukup beruntung dengan adanya kemudahan memilih dalam Pemilu Legislatif ini, hanya pelayanannya itu lho. Apalagi banyak pemilih pemula aka mahasiswa yang merantau dari tempat yang cukup jauh. Apa nggak sayang suaranya itu menghilang hanya karena pelayanannya yang kurang memuaskan? Cukup jadi catatan penting saja untuk ke depannya. Sebagai seorang pemuda Indonesia, saya rela kok hak pilih saya digunakan demi kemajuan bangsa hanya saja tolong dong pelayanan untuk kami juga "disamaratakan" ya, kita sama-sama WNI, dan punya hak pilih yang sama :)

Referensi gambar :
Maskot pemilu

16 komentar:

  1. Syukurlah kalau sudah nyoblos..
    Saya juga pakek form A5, tapi bedanya disini tak terlalu sulit.. :)

    Eh, itu kelingking apa telunjuk? Hahaha
    **Kaburrrrrr

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, iya, saya seneng bisa menggunakan hak pilih saya..
      sebenernya nggak sulit buat pake form A5 itu, hanya pelayanannya kurang suka, masa iya harus lempar melempar TPS -_-"

      itu kelingking baang, cm aku zoom, haha, maklum selfie megang gadgetnya susah :D

      Hapus
  2. Keren ya, beberapa orang diperantauan berpikir "Buat apa saya ikut milih diperantauan? Lha wong yang saya pilih nanti bukan dari dapil daerah saya, pasti hasil pilih saya tidak ada gunanya untuk daerah saya sendiri disana. Jadi mending nggak usah milih".

    Salut buat Andesty.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya ada seseorang yang ngomong gitu ke sy mas, sampe saya paksa untuk bisa milih disini, hehe..
      tapi bagi saya sih, dimanapun saya berada, selama masih punya hak dan ada fasilitas, apa salahnya digunakan toh? yang penting itu demi kemajuan bangsa Indonesia, beda dapil yang penting masih di Indonesia, gitu sih pandangan saya, hehe..
      wong di dapil sendiri aja nggak pada kenal, apalagi yang lain, tapi gapapalah, yang penting haknya sudah digunakan, siapapun yang kepilih nantinya bisa menjaga amanah rakyat untuk 5 tahun mendatang, kira-kira gitulah mas, hehe ^^

      Hapus
  3. yang penting jangan golput dah :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoha, yang penting kelingking warna ungu, hahaha :D

      Hapus
  4. Turut sedih dengan perjuangan kamu coblos ke tps
    karena aku tadi coblos lancar saja. Tanpa A5 dan hanya liatin KTP bisa coblos deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, menyebalkan sekali, padahal ngurus perpindahannya sudah jauh-jauh hari, tapi malah gini dilayaninnya -_-"

      Hapus
  5. salut buat perjuangannya untuk mau ikut nyoblos. demi masa depan bangsa.
    bersyukrlah kamu ada KOMTI yang mengkoordinir pengurusan form A5. saya di malang ga ada jd harus datang sendiri ngurus ke KPU, mana KPUnya jauh dr kost saya.
    emang kertas suara yg disiapkan KPU untuk pemilih tambahan itu cuma 2% dari DPT yg ada di TPS tersebut, jd kemungkinan saja jatah kita gak dapet klw pemilih tambahan banyak. solusinya ya harus nyari TPS yg sepi...
    moga ini jd perbaikan buat pilpres yg akan datang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, makasih pujiannya, hehe..
      iya, saya juga merasa cukup terbantu dengan adanya KOMTI, aslinya sy juga malas ngurus ke KPU, hehe..
      Ooohh, begitukah? tapi kalau memang gitu keadaannya berarti kita bebas ya memilih TPS apa saja? nggak terpaku dengan yang tertera di form A5. Yaa, semoga ini bisa jadi perbaikan untuk ke depannya :)

      Hapus
  6. Jadi pengen cepet-cepet nggunain hak pilih.. :)

    BalasHapus
  7. salam kenal dari www.yaumilakbarfirdaus.com.
    seorang bloger yang tinggal jauh dari keramaian kota.

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga, saya blogger dari tempat yang sangat ramai :D

      Hapus
  8. Aku punya sesuatu nih buat kamu.. kalau berkenan silahkan baca postinganku ini http://kokohahmad.blogspot.com/2014/06/liebster-award.html

    BalasHapus