Rabu, 12 Februari 2014

Bandung #20 : Curahan Hati Perokok Pasif

Tulisan saya ini hanya sekedar curahan hati semata, nggak ada unsur diskriminasi, paksaan, atau apalah itu. Kalau mereka saja ingin bebas melakukan hobi mereka, berarti saya juga bebas toh untuk berpendapat. Saya tekankan pula bahwa tulisan ini tak meminta adanya pro dan kontra, saya hanya ingin mencurahkan apa yang selama ini saya pendam tentang kalian, wahai perokok.

Saya, Destiany Prawidyasari, seorang mahasiswi di sebuah fakultas di universitas yang letaknya di timur Jawa, dimana mayoritas mahasiswa dan dosennya adalah kaum adam. Awalnya memang risih, setiap hari harus bertatap muka dan berinteraksi dengan mereka, namun seiring waktu menjadi terbiasa. Bukan jadi sesuatu yang aneh, jika menemukan mereka (para perokok, red.) merokok di lingkungan kampus. Bukan sesuatu yang perlu dikomplain karena itu adalah sesuatu yang sudah biasa terjadi, ya mereka para perokok aktif.
 

Saya? Saya ini hanyalah seorang perokok, ah tidak, saya adalah korban dari mereka, seorang perokok pasif, yang setiap kali ada di dekat mereka menjadi "korban asap rokok". Istilah ini bukan maksud dari buangan ya, hanya setiap kali mencium pakaian saya selalu bau rokok. Pakaian saya "korban asap rokok". Buat saya, ini buat saya lho, salah seorang perokok pasif, bukan mereka, rokok adalah penyakit. Kenapa kok saya bisa bilang kayak gini? Karena rokoklah ayah saya pernah mengalami sakit paru-paru hingga muntah darah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Saya masih ingat kejadian itu terjadi saat saya kelas 2 SD. Saya menangis, ya biasalah anak kecil, lihat ayahnya sakit seperti itu dan dibawa ke rumah sakit. Sejak saat itu, terpatri dalam diri bahwa saya benci pada mereka, dan rokok yang membuat ayah saya menjadi seperti itu.

Saya paling tidak tahan dengan asap rokok sebenarnya. Meski tidak melarang mereka untuk merokok, tapi rasanya dada ini sesak menghirup asap meski hanya sesaat. Sakit, nyeri dada saya ini. Makanya asal kalian tahu saja, setiap mereka mulai merokok, saya berusaha untuk menahan napas, dan kemudian membuangnya lewat mulut, begitu seterusnya. Saya begitu supaya mengurangi asap rokok yang terhirup oleh hidung. Sakit, sakit rasanya. Pernah suatu ketika saya berada di suatu ruangan tertutup yang berisi orang-orang yang sebagian dari mereka adalah perokok, dan saya perempuan satu-satunya disana. Asap mengebul di ruangan, saya disana terus mencoba bertahan untuk tidak banyak menghirup. Mau meninggalkan ruangan, tapi keadaan memaksa saya untuk tetap ada disana. Coba bayangkan? Apakah mereka memikirkan saya saat itu? Entahlah, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

Apa tak ada upaya yang saya lakukan untuk mengurangi ini? Ada, dan sementara ini saya masih menerapkan dengan ayah. Meskipun upaya saya ini masih belum bisa menghilangkan kebiasaan ayah yang perokok. Ah ya, belum saya ceritakan. Setelah keluar dari rumah sakit, ayah saya masih belum bisa menghilangkan kebiasaannya itu, walaupun tak sebanyak sebelum sakit itu. Kadang saya mengingatkan beliau untuk mengurangi jatahnya dalam sehari, meminta beliau untuk merokok yang jaraknya jauh dari kami (saya, adik, dan ibu) agar tak terkena asapnya, bahkan saat saya masih sekolah dulu saya suka menyembunyikan rokok ayah ketika beliau ulang tahun. Hal tersebut saya lakukan demi keinginan saya untuk mengurangi kebiasaan beliau itu. Pernah saya membuat janji dengan beliau, jika saya masuk ITB, ayah saya akan berhenti. Sayang, saya tidak lolos ujian masuk kesana. Saya salah buat janji, harusnya kalau saya bisa kuliah, ayah akan berhenti. Sudah salah dari awal, tapi ya sudahlah, mau diulang juga nggak bisa.

Kan tinggal pergi aja sih kamunya, gampang...

Ya emang gampang. Di kantin ketika saya sedang makan, kemudian mereka merokok, saya tinggal pergi saja dan membawa makan saya ke tempat lain. Jadinya nomaden, sekali makan ada yang begitu, kemudian pindah lagi. Memang sih tempat umum, tapi apa hak kami sebagai perokok pasif tak ada disana? Apa nanti alasannya karena tidak ada ruang khusus merokok? Ups, maaf, saya sedang curhat ya, maaf jadi terbawa emosi.

Sudah tahukah kalian bahwa asap rokok lebih berbahaya untuk kami, para perokok pasif dibanding kalian? Kami yang tak salah apa-apa, tapi kami juga yang harus menanggung akibatnya. Oke, kalau yang namanya kematian dan kehidupan adalah rahasia Tuhan, saya tahu itu, tapi bukankah lebih baik juga jika kalian menjaga tubuh kalian sebagai titipan Tuhan? Saya ingin menjaga tubuh yang sehat, jadi saya mohon agar kalian mengerti.

Saya nggak pernah mengerti tentang iklan rokok. Sering lihat kan kalau ada himbauan di iklan tersebut bahwa merokok membunuhmu. Memang terlihat sadis, tapi nggak ngaruh. Buktinya yang merokok tetap merokok saja kok. Himbauan yang kalau disiarkan lewat televisi tak lebih dari 5 detik, mana orang bisa paham maksudnya coba kalau tayangannya cuma sekian detik gitu? Eh, iya saya curhat, maaf emosi lagi.

Saya tak pernah melarang kalian merokok, kecuali pendamping hidup nanti yang saya harap tidak merokok. Bukan karena apa-apa, karena saya memikirkan masa depan kami dan anak-anak. Saya tak ingin anak-anak saya yang masih kecil nanti sudah diracuni asap rokok dari ayahnya yang seharusnya tidak ia hirup. Oke, balik lagi soal larangan, saya saat ini bukan seorang pejabat yang bisa membuat undang-undang, saat ini saya hanyalah seorang mahasiswi dan seorang aktivis himpunan yang sebentar lagi akan mengakhiri masa bakti di organisasi tersebut. Jadi kata-kata saya ini hanyalah sebuah permohonan untuk kalian wahai para perokok untuk melihat kami.

Kalian boleh kok merokok, toh di Indonesia masih belum ada fatwa haram untuk masalah rokok ini. Saya tak ikut campur juga apa alasan kalian bisa merokok, toh itu kepentingan kalian. Tapi tolong, tolonglah, pedulikan kami, kami ingin hidup sehat dan kalau bisa bebas dari asap rokok. Mungkin di saat ada kami, kalian bisa mencari tempat lain yang bisa digunakan untuk merokok. Kalau kalian mengabaikan tulisan saya ini, tak apa, ini hanya sekedar curhatan saya, seorang perokok pasif :')

Referensi gambar :

6 komentar:

  1. perokok pasif menanggung resiko 3 hingga 4 kali dibanding perokok aktif karena lebih banyak menghirup asap gratisan, ditempat saya kerja & kuliah juga begitu, penuh perokok padahal saya juga nggak ngerokok, dan lebih bikin sebel lagi kalo puntung rokok dibuang sembarangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru itu, kadang jadi serba salah ya, mau diingetin malah balas dengan berbagai alasan yang mendukung mereka, ya inilah ya itulah. nggak masalah mereka merokok, yang kurang tepat itu merokok tapi nggak peduli nasib kita sebagai perokok pasif :(

      Hapus
  2. Hmmm..saya termasuk korban dari perokok aktif tersebut. Ternyata jadi perokok pasif lebih tersiksa ya -____- *gak kuat asap rokoknya*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amat sangat tersiksa mbak, ya asepnya, ya sesek dada karena asepnya. Buat qt sih nggak ada untungnya :(

      Hapus
  3. Saya juga seorang perokok pasif. Mereka (Perokok aktif) sering meminta saya untuk ikut merokok, mereka bilang kalo tidak merokok berarti tidak laki. Ini aneh banget, saya sering melihat laki-laki yang ngondek, dan laki-laki yang ngondek itu ngerokok. Berarti yang mereka sebut laki itu adalah ngondek.
    Tapi bener-bener nyebelin loh. Saya pernah waktu lagi asik kerja, di pinggir saya ada orang yang lagi ngerokok. Yang nyebelinnya, orang yang lagi ngerokok itu ngeluarin asapnya ke depan muka saya. Nyebelin banget orang-orang gitu.

    Kamu nyari pendamping hidup yang enggak merokok? Bisa dong saya ngajuin proposal. Hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak ngerokok nggak laki? sekarang malah banyak perempuan yang mgerokok, sekarang bukan gender yang jadi masalah :)
      dan saya juga nggak ngerti atau nggak tahu bahwa asap yang mereka timbulkan itu lebih bahaya untuk kita? atau dengan ngeluarin asap di depan muka itu dilakukan dengan sengaja?
      akan lebih dihargai kita, ketika mereka ngerokok tapi tidak di dekat yang merokok, kita aja ngehargai mereka yang mau ngerokok, tapi kok mereka ngga? :D

      waduh, lagi nggak buka lowongan nih, soalnya udah ada, hehe..

      Hapus